Minggu, 10 Juni 2012

TRADISI PERNIKAHAN KOREA

Ternyata tradisi pernikahan ala Korea ini terbilang unik. Awalnya, para teman dekat pengantin pria akan beramai-ramai membawakan hadiah pertunangan ke rumah calon pengantin wanita. Hadiah itu dimasukkan ke dalam kotak yang diberi nama hahm. Para pengantar hadiah pertunangan ini akan tiba di rumah sang pengantin wanita, lengkap dengan kostum dan wajah yang dipoles menajdi hitam, lalu meraka akan bernyanyi.

Para pembawa hadiah ini akan berhenti di depan rumah sang calon pengantin wanita, dan meneriakkan “Hahm untuk dijual, hahm untuk dijual!”. Lalu keluarga sang calon pengantin wanita akan menghampiri mereka sambil menawarkan uang. Kegiatan ini bisa disebut sebuah negosiasi, dan tentunya negosiasi yang menyenangkan juga penuh tawa.


Pesta pertunangan sendiri sekarang ini lebih sering diadakan di rumah makan. Dan sang calon pengantin wanita mungkin akan mengenakan hanbok (pakaian tradisional untuk acara pertunangan). Untuk hiburan, biasanya anggota keluarga akan berkaroke ria.

Sebelum pernikahan dilangsungkan, calon pengantin pria akan memberikan sebuah hadiah pada calon ibu mertuanya berupa sebuah angsa liar yang masih hidup. Namun sekarang ini lebih sering memberikan boneka angsa yang terbuat dari kayu. Angsa ini menandakan sang calon pengantin pria akan merawat anak perempuannnya seumur hidup.

Pernikahan tradisional Korea diselenggarakan di rumah sang pengantin wanita. Sedangkan sumpah pernikahan dilakukan dalam upacara yang dinamakan kunbere. Kedua pengantin akan saling membungkuk lalu meminum anggur khusus dari sebuah labu yang ditanam oleh ibu sang pengantin wanita.

Beberapa hari seteleh upacara pernikahan, kedua pengantin akan mengunjungi keluarga sang pengantin pria untuk menjalani upacara pernikahan lainnya yang disebut p’ye-baek. Sang pengantin wanita akan menawarkan korma dan chestnuts kepada orangtua pengantin pria. Hal ini melambangkan anak-anak.Lalu orangtua akan menawarkan sake, dilanjutkan melempar korma dan chestnuts pada sang pengantin wanita yang mencoba menangkap keduanya mengunakan pakaian pengantinnya.Di Amerika, upacara p’ye-baek dilakukan pada hari pernikahan.

http://news.xinhuanet.com/english/2009-04/10/xinsrc_30204061021148901841157.jpg

Perjamuan makan dalam pernikahan tradisional Korea sangatlah sederhana. Bahkan hanya dibutuhkan sup mi, dan faktanya pesta perjamuan makan Korea disebut kook soo sang yang berarti “perjamuan mi.” Mi yang panjang melambangkan kehidupan yang panjang dan bahagia. Mi akan direbus bersama kaldu sapi dan hiasan lainnya serta sayuran. Dok, atau kue ketan biasanya menjadi hidangan yang disajikan dalam sebuah acara di negara ini, khususnya di pernikahan.

Sumber:

Sabtu, 09 Juni 2012

Haruharu (2)


Daffin telah menyiapkan semua dengan sempurna. Senyum di bibirnya terus terkembang. Malam ini ia akan melalui malam yang indah bersama Jessica. “Satu hal yang dapat kulakukan untuk membahagiakanmu… untuk yang terakhir,” ucapnya sendiri. Senyumnya memudar. Tatapan kosong menerawang jauh pada kenyataan yang Daffin kubur sendiri.
Ting. Denting pintu yang terbuka mengembalikan pikiran Daffin dari lamunan. Ia bergegas menuju pintu depan. Cepat-cepat mencegah seseorang yang sudah ia nanti untuk tidak masuk terlalu jauh. Daffin tak mau apa yang sudah dipersiapkan sejak pagi sia-sia. “Welcome,” sambutnya memamerkan senyum termanis untuk gadis yang berdiri di hadapannya kini.
Gadis berambut panjang itu mengernyit. “Tumben,” gumamnya. Daffin melangkah lebih dekat. “Special for my pretty girl.” Kecupan hangat Daffin daratkan di pipi gadisnya.
Close your eyes, Honey!” perintah Daffin. Jessica tak segera menurut. Kedua alisnya bertaut, penuh tanya. Berbagai macam dugaan berseliweran dalam pikirnya.
Please….” Mohon Daffin dengan tampang memelas. “Memangnya kamu tega menghancurkan apa yang sudah aku kerjakan dari pagi tadi?”
“Huh, well… aku akan tutup mata,” putus Jessica. Perlahan kelopak matanya menutup. “Jangan ngelakuin yang aneh-aneh ya!” ancamnya kemudian. Daffin meraih tangan kanan Jessica, menggenggamnya erat.
“Bukan aku yang suka beraneh-aneh, tapi lebih seringnya kamu,” sahutnya.
Jessica mengerucutkan bibir tanda protesnya. “Aku nggak seperti itu.”
“Hmm, up to you,” pasrah Daffin tak mau berdebat lagi dengan Jessica. “Kita sudah sampai…open your eyes now.”
Perlahan Jessica membuka mata. Ditatapnya sekeliling, ruangan bercat putih dengan sebuah bed ukuran besar, kamar tidurnya sendiri. Dahi gadis itu pun berkerut heran. Kejutan apa? batinnya. Ia membalikkan badan menghadap Daffin yang sudah menyambutnya dengan senyuman. “Kamu mempermainkanku?” ucap Jessica bertolak pinggang.
“Aku nggak mempermainkanmu. Lihat baik-baik!” Jessica mendengus sebal tapi ia menuruti ucapan Daffin. Diedarkan kembali pandangannya ke sekeliling ruangan. Sebuah kotak berwarna coklat dengan pita warna emas melilitnya tergeletak di atas tempat tidurnya. Tangan mungil Jessica tergerak menyentuh kotak itu.
“Apa ini?” tanyanya.
“Sesuatu untuk kau pakai malam ini. Aku akan keluar menunggumu.” Daffin mengecup pipi Jessica dan beranjak keluar, meninggalkan Jessica dari keterpanaan. Mata gadis itu berbinar mendapati gaun berwarna merah marun di dalam kotak yang ia sentuh. Gaun yang cantik dengan kombinasi pita warna hitam menghias bagian pinggang. “Cantik,” gumam Jessica. Senyum senang tak ayal terkembang di bibirnya. Kamu memang paling tahu bagaimana cara membuatku bahagia, batinnya.
***
Makan malam romantis berhasil membuat Jessica luar biasa bahagia. Ia tak henti bersyukur dalam hati atas apa yang ia peroleh saat ini. Ya, atas cinta yang ia dapat dari Daffin, atas perhatian pria itu terhadapnya. Tampan, kaya, pintar, baik, dan romantis, bayangkan wanita mana yang tidak bahagia dianugerahi kekasih seperti itu.
“Terima kasih, aku senang sekali hari ini,” ucap Jessica. Kepalanya bersadar pada dada kokoh Daffin. Kedua tangan sengaja ia lingkarkan pada leher kekasihnya itu.
Daffin berbanding terbalik. Ia memeluk Jessica dengan tatapan kosong. Melepasmu bukan hal yang mudah, tapi aku harus melakukannya, batinnya. Perlahan ia pun mengurai pelukannya. Menatap wajah kekasihnya yang masih mengembangkan senyum. Senyum termanis yang selalu ia lihat. “Aku hanya ingin kamu bahagia dan tetap tersenyum seperti ini,” gumamnya.
“Kamu ngomong apa?” ucap Jessica tak mengerti. Suara Daffin tak begitu jelas ia dengar tadi.
Daffin membelai pipi gadisnya. “Nggak, bukan apa-apa. Aku hanya ingin kamu tetap tersenyum seperti ini. Berjanjilah?”
“Aku akan tetap tersenyum kalau kamu tetap ada di sisiku,” balas Jessica mengeratkan pelukannya.
“Nggak.” Daffin menggeleng. “Ada atau nggak aku di sisimu, kamu harus tetap tersenyum, tetap bahagia.”
Jessica mengurai pelukannya. Ada yang terlihat aneh dari ucapan Daffin. Ia merasa ada sesuatu yang tak beres dari kekasihnya. “Kenapa kamu bicara seperti itu?”
Daffin tak menjawab cepat. Ia hanya menggenggam kedua tangan Jessica sembari memandangnya dalam-dalam. Menikmati tiap goresan yang melukis wajah cantik gadis itu. Jessica terhipnotis oleh tatapan sendu Daffin. Sampai-sampai tak sadar akan jemari Daffin yang tengah bergerak pelan meraih logam bulat pada jari manis tangan kanannya. Logam emas yang melingkari jari manis Jessica itu Daffin lepas. “Maaf, Jess… aku tidak bisa bersamamu lagi,” tandas Daffin.
Jessica tercengang, merasa ada yang salah dalam pendengarannya. Rasa terkejut menyebabkannya terdiam untuk beberapa saat. Ia harap ini Cuma gurauan atau mimpi buruk semata. “Kamu bercanda, Daff? Nggak lucu.” Jessica tersenyum kecut. Memandang Daffin dengan penuh arti. Ini bohongkan?
Sayangnya, jawaban yang ia peroleh jauh dari pengharapannya. Daffin menggeleng. “Kita putus, Jess.” Pria itu melepas genggaman tangannya. Mundur secara perlahan, menjauhi gadisnya.
Butiran air mata turun begitu saja dari pelupuk mata Jessica. “Bohongkan, Daff?” gumam Jessica. “Kenapa? Kenapa kita harus putus? Kita saling cinta, kita akan menikah, Daff.” Kepedihan menjalarinya pelan-pelan. Kenyataan terlalu path untuk dapat diterimanya. Daffin pun berubah dingin dalam diam. “Katakan kamu tidak mencintaiku, Daff?” buru Jessica.
Daffin tertunduk lemah. Baginya melukai Jessica turut melukai hatinya juga. Tapi ia tak punya pilihan lain. Hanya cara ini yang ia pikir akan mampu membuat Jessica bahagia kelak. Ya, meski sekarang ia harus melukainya dulu.
“Daff, kamu mencintaiku kan?” Jessica kembali menggenggam kedua tangan Daffin. Suaranya lembut dan parau.
“Tidak, Jess.” Daffin mengatakan dengan pilu tanpa menatap Jessica.
“BOHONG!” teriak Jessica. “Tatap aku dan katakan itu bohong!”
Rahang Daffin mengeras, menyentakan genggaman tangan Jessica dengan kasar. “Itu benar, Jess. Aku tidak mencintaimu lagi,” tegasnya seraya menatap Jessica tajam. Sebuah tatapan dingin yang tidak pernah Jessica terima. Badan gadis itu lemas seketika.
“Lalu… ini semua apa?” gumam Jessica.
“Kamuflase, gue nggak pengen lo terlalu sedih. Itu saja.” Nada ucapan Daffin berubah. Bukan aku-kamu lagi. Ia berbicara dengan nada dingin dan kasar. “Sudahlah, Jess. Lo cantik, lo bisa dapat cowok yang lebih baik dari gue. Nggak usah sedih, oke.” Daffin memasang topeng dinginnya. Berkata seolah ia tidak terluka. Jessica terdiam dengan pandangan kosong. “Well, hanya itu yang pengen gue omongin. Gue pulang dulu.” Dengan memendam getir luka di hatinya, Daffin membalikkan badan meninggalkan Jessica yang masih terpukul.
***

Kamis, 07 Juni 2012

Haruharu (1)


Doraboji malgo tteonagara
Ito nareul chatji malgo saragara
Neoreu saranghaegie huhoe eopgie
Johatdeon gieongman gajyeogara
Geureokjeoreok chama bolmahae
Geureokjereok gyeondyeo naelmanhae
Neon geureolsurok haengbokhaeyadwae
Haruharu mudyeojyeo ga eh eh eh

Daffino Arhaki Wilberd terbangun oleh bunyi alarm jam bekernya. Ia mengerjab seraya meraba bagian meja sebelah kanannya, meraih jam beker yang memekakan telinga. Pukul 8.15 yang terlihat pada jam beker digitalnya. Ia bangkit seketika, buru-buru menghambur ke dalam kamar mandi.

Lima belas menit kemudian, Daffin telah selesai dengan acara mandi paginya. Handuk biru melilit menutupi bagian bawah tubuhnya. semantara itu bagian atas tubuhnya dibiarkan terbuka, menampakkan dada bidangnya yang tergolong putih itu. Ia tak lagi terburu-buru. Dengan santainya Daffin duduk pada pinggir tempat tidurnya. Ujung bibirnya terangkat ke atas mendapati seseorang masih terpejam di atas tempat tidurnya itu. Tangan kekar Daffin bergerak dengan lembut membelai wajah seorang gadis cantik. "Jess, bangun. Kamu nggak kuliah, hmm?" sapanya lirih.

Jessica Kinanti hanya menggeliat, menarik selimutnya ke atas menutupi bagian wajahnya. Ia sama sekali tak mempedulikan ucapan Daffin. Huft. Daffin menghela napas sejenak. Beginikah calon istriku?batinnya.

Daffin tak kehilangan akal. Ia menarik ujung selimut Jessica, membuat wajah gadis cantik itu terlihat. Tanpa aba-aba bibir Daffin sudah menempel pada bibir gadisnya. Daffin melumat lembut, tak peduli dengan keadaan gadisnya yang masih terpejam. Lima menit berlangsung dengan keadaan sama. Daffin menambah keintensnan ciumannya. Ia melumat dengan ganas, menggigit bibir bawah Jessica. Alhasil sang pemiliknya membuka mata, melotot terkejut. "Da...hmp..fin..." Jessica tak mampu mengeluarkan suaranya dengan jelas. Lidah Daffin telah masuk memenuhi rongga mulutnya, mengekploitasi dengan ganasnya tiap sisi di dalamnya. Jessica tak mau menyerah begitu saja, tangannya terangkat menyentuh dada bidang Daffin lalu mendorongnya sekuat tenaga. Daffin terlalu kuat, sedikit pun tak bergerak oleh dorongan dari Jessica. "Hmmp." Jessia kembali bergumam. Senyum tipis tersungging di bibir Daffin. Pria berwajah tampan itu melepaskan ciumannya.

"Bagaimana bisa bangunkan sekarang?" ujar Daffin, tampak puas sudah berhasil mengganggu Jessica.

"Jahat sekali! Aku kan masih lelah, apa nggak bisa kasih waktu aku untuk tidur sebentar saja?" gerutu Jessica.

"Memangnya tidurmu semalam kurang, hmm?" Daffin bangkit menuju almari pakaian di sisi kanan tempat tidurnya. Jessica sendiri bangkit berjalan masuk ke dalam kamar mandi dengan mengunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.

"Kurang! Kau mengerjaiku habis-habisan, apa kau tak mengingat itu?" teriak Jessica. Daffin terkekeh, benaknya berkelana membayangkan kejadian semalam. Ia memang sengaja tak membiarkan Jessica beristirahat dengan cukup nyenyak.

"Bukannya kamu suka?" ejek Daffin.

Tak ada jawaban dari Jessica. Hanya terdengar suara siraman air. Ah, dia tak mendengarnya. Daffin pun bergegas keluar kamar setelah memakai pakaian lengkap. Ia perlu membuat sarapan sebelum berangkat ke kampus.
***

Daffin dan Jessica terkenal sebagai pasangan paling serasi di kampusnya. Tiga tahun sudah mereka menjalin hubungan. Dan setengah tahun menjelang kelulusan mereka – lebih tepatnya kemarin – Daffin telah menyematkan cincin emas putih bermata berlian ke jari manis Jessica.

"Wuih makin lengket aja kalian," seru Alex ketika Daffin dan Jessica memasuki ruang kelas. Dua orang pria di samping dan depan Alex pun langsung menatap sepasang sejoli itu.

"Ngiri lo?" sahut Daffin sembari duduk di belakang Alex. Sedangkan Jessica duduk di samping kanan Daffin. Pipinya merah tersipu malu.

"Enggak tuh, gue kan masih punya Mini," balas Alex.

"Ah, tapi nggak bisa selalu ketemu kan? Beda kampus gitu," timpal Lesnar yang duduk di samping Alex.

"Mending dari pada lo ngejomblo. Mantan ketua BEM yang nggak laku," ejek Alex.

Pletak. Sebuah jitakan mendarat mulus di kepala Alex. "Enak aja lo. Gue tuh bukannya gak laku, tapi emang guenya aja yang ogah. Banyak tuh cewek yang gue tolak!"

Leon yang duduk di depan Alex memutar posisi duduknya menghadap Alex. "Sudah..sudah...ada mie ayam baru...makan dulu sana!" Pletak Pletak. Dua pukulan secara bergantian mendarat di kepala pria berambut tipis itu. "Ah, kalian berdua tega amat sih!" dengus Leon kesal. Daffin dan beberapa orang yang melihat tinggah para pria itu hanya bisa menggeleng kepala heran.

"Nggak berubah ya kalian itu..ckck," ujar Daffin. Mata bening pria itu mengarah pada Lesnar yang tengah beranjak dari tempat duduknya semula "Ck, Asdos kita mau mulai pekuliahan nih," gumamnya.

"Asdos gila!" timpal Alex. Dan benar saja Lesnar membuka mulutnya memberitahukan bahwa kuliah yang ia ampu akan ia mulai.
***

Daffin membiarkan peluh membasahi wajah gantengnya. Di tangan kanannya sebuah bola basket ia pantulkan membentur lantai lapangan indoor. Sudah bukan hal baru untuk pria yang masih memiliki darah Australia itu. Hampir setiap hari ia memainkannya, entah itu sendiri seperti yang dilakukannya sekarang atau bersama timnya. Sementara itu pada tribun penonton, seorang gadis sebaya dengan Daffin dengan mata berbinar memandangi sosok pria itu. Kehebatan Daffin dalam segala hal memang selalu dapat membuat gadis itu terpesona.

Bruk. Tatapan mata bening gadis berambut ikal sepunggung itu berubah cemas ketika mendapati pria yang dikaguminya terjatuh. Gadis itu tak tinggal diam. Dengan cepat ia bangkit berlari menghampiri Daffin. "Daff, lo baik-baik aja kan?" ujarnya cemas. Daffin terdiam, bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya. Dadanya terasa sesak tiba-tiba. "Daffin..." Gadis itu memanggil Daffin sekali lagi. Daffin mendongakkan kepala. Senyum paksa ia tampilkan untuk menutupi rasa sakit yang tiba-tiba mendera sistem pernapasannya.

"Gue nggak apa-apa," jawab Daffin seraya bangkit berdiri. Gadis yang mencemaskannya refleks membantunya, memapah Daffin ke pinggir lapangan. "Makasih, Han," ucap Daffin. Ia duduk di pinggir lapangan, mengusap peluh yang memenuhi wajahnya dengan handuk kecil. 

"Lo yakin nggak apa-apa, Daff?" tanya Hana sekali lagi. Ia tak dapat tenang bila melihat wajah Daffin pucat seperti sekarang ini.

"Gue baik-baik aja, Han...cuma pusing kelelahan doang tadi," kilah Daffin.

"Yakin?" Kening Hana berkerut memandangi Daffin. Pria itu hanya mengangguk.
***

Bersambung....

Penantian, Wayang dan Hujan Tengah Malam


Pukul dua belas lewat sepuluh menit, seperti biasa mata terbuka seketika itu juga. Seolah ada jam beker dalam otak yang secara tidak sadar membuatku bangkit dan membuka mata. Mimpi yang entah tak dapat kuingat jelas sebelumnya sirna sudah. Yang menyambutku hanya suara gemuruh dari atas dan hawa dingin yang tak biasa. Aroma mendung tercium menyegarkan.

Tubuhku bergerak melakukan rutinitas biasaku ketika terjaga. Pintu kamarku terbuka separuh. Tanpa pikir panjang kuraih handelnya dan keluar kamar. Gelap pekat tak membuat mataku jera mengamati sekeliling ruang tamu. Kosong dan tak ada seorang pun. Suara televisi yang menyala terdengar dari arah ruang tengah. Tak luput pula dehaman keras dan berat yang mengiringinya. Aku sudah dapat menduga siapa yang masih terjaga di sana. 

Agaknya mataku tak cukup tertarik untuk melihat lebih jauh kondisi ruang tengah. Itu bisa kulakukan nanti. Yang menjadi perhatianku adalah pintu depan yang terbuka. Kontan saja kakiku bergerak terkomando sendiri. Kulongokkan kepalaku. Membatin aku sudah bisa mengira sosok yang tengah duduk di teras depan rumahku saat ini. Ya, sosok wanita paruh baya berdaster orange dengan rambut sebahu tergerai. Aku jadi ingat cerita salah satu tetanggaku yang ketakutan saat melewati depan rumahku. Katanya dia melihat seorang wanita bergaun panjang dengan rambut tergerai sedang berjalan-jalan di atas tanggul depan rumahku. Berbagai macam dugaan mistis terlintas dalam benak tetanggaku. Alhasil, dia tak berani lagi lewat di depan rumahku tiap tengah malam. Sungguh lucu.

"Belum tidur, Bu?" sapaku lirih dari ambang pintu. Sosok yang kusapa tak bergeming sedikit pun. Alih-alih menengok pun tidak. Pandangannya masih terjurus ke depan. Entah apa yang sedang dipikirkannya dengan tatapan kosong seperti itu. Aku hanya mampu menangkap luka di hatinya. Ya, luka akibat pendustaan anak yang ia lahirkan. Meski begitu ia masih setia menantinya pulang, sampai detik ini. Tiap kali melihat itu, rasa iri menjalari hatiku. Apa aku akan mendapatkan penantian yang sama jika pada detik ini aku tak kunjung pulang? Ah, mungkin tidak juga. Beliau tak bisa tidur nyeyak kalau anak lelakinya itu yang belum pulang. Sedangkan aku? Tak ada yang perlu dicemaskan. Aku tak pernah membuat kesalahan fatal sejauh ini.

Merasa tak kunjung mendapatkan jawaban, kutarik badanku kembali ke dalam rumah. Samar-sama tercum bau tanah tersiram percikan air. Hujan telah datang. Hmm... kunikmati sebentar bau hujan yang menyegarkan itu. Ada sensasi tersendiri saat menikmatinya. Bau hujan memang menyenangkan.

Tak lama, hanya dalam hitungan menit percikan air yang semulaberupa rintikan kecil berubah deras. Aku memutuskan untuk melanjutkan ritual malamku. Kulangkahkan kakiku ke belakang. Terlihat sosok pria paruh baya duduk di atas kursi rotan reot -- yang harusnya terbuang -- dengan televisi menyala di depannya. Keningku mengernyit sesaat mendapati tayangan yang meuncul di layar kaca. Bukan kupasan berita malam seperti yang biasa sosok itu tonton. 

Bahasa Jawa kental dan orang-orang berbaju ada Jawa lengkap. Tak lupa iringan musik gamelan yang mengiringanya. Ah, wayang kulit. Tayangan yang kukira telah sirna dari layar kaca itu ternyata masih ditayangkan. Mengingatkanku pada masa kecilku dulu. Ketika tengah malam, nenekku tak pernah absen menontonnya. Stasiun tv yang menayangkannya pun hampir sama. "Itu Mantep kan?" gumamku seraya memandangi gerak dalang memainkan Rahwana yang dipegangnya.

"Iya." Satu kata terucap dari mulut ayahku, membenarkan tebakanku.

Dalang yang sudah hampir tua itu masih eksis rupanya. Suara dan kelincahan memainkan benda berbahan kulit itu masih sama. Ki Mantep Sudarsono, berbaju biru, berblangkon coklat. Persis saat ia melakoni iklan salah satu obat sakit kepala. Refleks kuhempaskan pantatku di atas dipan ruang tengah. Menonton aksi Ki Mantep sejenak. Dialog berbahasa Jawa Krama membuatku harus berpikir ekstra. Untunglah ada tulisan berbahasa Indonesia yang menyertai tampilan di layar kaca. Meski begitu aku tak kurung mengerti jalan cerita yang sedang berlangsung. Kisah Rahwana dan Rama hanya itu yang dapat kutarik dari beberapa kalimat yang kudengar. Coba aku menontonnya lebih awal. Jadi, bisa mengetahui cerita secara keseluruhan. Kalau seperti ini tidak enak, aku tidak mengerti sama sekali, pikirku.

Setelah cukup puas menikmati tayangan tengah malam itu, aku kembali beranjak ke ruang belakang. Rutinitas yang umum, gosok gigi dan buang air kecil. Aktivitas yang sudah mendarah daging karena sudah terjadi sejak aku kecil. Ingatan tetang pesan yang para orang tua sering katakan masih segar dalam benakku. "Sebelum tidur jangan lupa gosok gigi dan cuci kaki. Buang air kecil juga biar nggak ngompol." Kata-kata itu begitu membekas. Padahal dulu sering kali aku mengabaikannya. Sungguh aneh. 

Hujan dan gemuruh petir membuatku bergindik. Mengerikan. Aku pun bergegas kembali ke kamarku. Melanjutkan tidurku. Saat melewati ruang tamu kulihat pindu depan telah ditutup. Hmm.. penantian yang menjemuhkan berakhir dengan kehampaan. Dia tak pulang malam ini. Aku tidak yakin ibuku akan benar-benar nyenyak. Tak bisa dipungkiri meski aku terlihat tak peduli, tapi aku turut memikirkannya juga. Bahkan, aku merindukannya. Masa kecilku dengannya hanya terisi oleh pertengkaran-pertengkaran. Tak ada keakraban layaknya kakak-adik pada umumnya. Namun, satu hal yang masih membekas dalam ingatanku. Ketika dia melindungiku. Ya, aku masih mengingat saat itu. Huft, aku merindukan sosok kakakku yang dulu. Rindu sekali dan berharap ia akan kembali selayaknya dulu. Harapan yang sama yang diinginkan oleh orang tuaku. 

Semarang, 08062012

Rabu, 06 Juni 2012

Apa itu Artikel?


Artikel adalah tulisan lepas berisi opini seseorang yang mengupas tuntas suatu masalah tertentu yang sifatnya actual dan atau controversial dengan tujuan untuk memberitahu, memengaruhi, dan meyakinkan atau menghibur khalayak pembaca (Sumadiria, Haris. Menulis Artikel dan Tajuk rencana, 2011).

Karakteristik Artikel
1.      Ditulis dengan atas nama (by line story)
2.      Mengandung gagasan actual dan atau controversial
3.      Gagsan yang diangkat harus menyangkut kepentingan sebagian besar khalayak pembaca.
4.      Ditulis secara referensial dengan visi intelektual
5.      Disajikan dalam bahasa yang hidup, segar, popular dan komunikatif.
6.      Singkat dan tuntas
7.      Orisinal

Jenis-Jenis Artikel
1.   Artikel Praktis
Lebih bersifat petunjuk praktis tentang cara melakukan sesuatu. Artikel praktis menekankan pada aspek ketelitian dan keterampilan daripada masalah pengamatan dan pengembangan pengetahuan serta analisis peristiwa. Pola yang digunakan biasanya pola kronologis, disusun berdasarkan urutan waktu atau tahap pekerjaan.
2.      Artikel Ringan
Lebih banyak mengangkat topic bahasan yang ringan dengan penyajian yang ringan pula, dalam arti tidak menguras pikiran.
3.      Artikel Halaman Opini
Mengupas suatu masalah secara serius dan tuntas dengan merujuk pada pendekatan analitis akademis. Sifatnya relative berat karena kerap ditulis oleh orang yang berlatar belakang pendidikan, pengetahuan, keahlia atau pengalaman memadai di bidangnya masing-masing.
4.      Artikel Analisis Ahli
Ditulis oleh ahli atau pakar di bidangnya dalam bahasa yang popular dan komunikatif. Artikel ini mengupas secara mendalam suatu masalah yang sedang menjadi sorotan dan bahan pembicaraan hangat masyarakat.

Syarat Jadi Penulis Artikel
1.      Teknikal
2.      Mental
3.      Reading-habit
4.      Intelektual
5.      Sosiokultural

Syarat Artikel Layak Kirim
1.   Topic yang diangkat benar-benar actual
2.   Tesisi yang diajukan orisinal serta mengandung gagasan baru dan segar
3.   Meteri yang dibahas menyangkut kepetingan masyarakat luas
4. Topic aktual pokok bahasan yang dikupas diyakini tidak bertentangan dengan aspek etis, sosiologis, yuridis, dan ideologis
5.  Ditulis dalam bahasa baku yang benar dan baik, lincah dan segar, mudah dicerna dan ringan dibaca
6.   Mencerminkan visi dan sikap penulis sebagai seorang intelektual
7.   Referensial
8.   Singkat untuh dan tuntas
9.  Memenuhi kebutuhan sekaligus bisa mengikuti selera dan kebijakan redaksional media massa
10.  Memenuhi kualifikasi teknis-administratif media massa bersangkutan

Minggu, 03 Juni 2012

Cinta Yang Tak Mungkin #2


“Aku mencintaimu, Ben.” Kalimat itu terlontar begitu saja setelah sekian lama aku memendamnya. Dua bulan sudah berlalu bergitu cepat. Aku tak kuasa lagi membendungan perasaa dalam hati ini. Aku memandangnya, dia tersentak terkejut. Seperti mimpi bukan? Karena di dunia yang sebenarnya, ini tak seharusnya terjadi. “Apa yang kamu katakan, Mel? Kamu sedang bercanda?” Selama sepersekian menit tadi dia diam, akhirnya dia menyuarakan rasa terkejutnya, menganggap ini hanya candaan?
“Aku serius, Ben. Aku benar-benar mencintaimu,” sergaku cepat. Kutarik dan kugenggam kedua tangannya. Dia menggeleng-geleng, masih tak percaya pada ucapanku. “Tidak, Mel. Tidak mungkin,” ujarnya sambil menarik kedua tangannya dan menepis kedua tanganku. Lalu dia mundur beberapa langkah.
“Aku tidak mampu menahan ini. Aku juga tida bisa membohongi diriku sendiri. Aku memang mencintaimu!” pekikku. Ini memang benar apa adanya. Aku tahu ini pasti terllihat gila, cinta yang tak selayaknya ada. Bahkan lebih besar dari cinta yang kukenal sebelumnya. Tes tes tes. Ada yang menetes dari kelopak mataku, aku menangis rupanya. “Aku tak butuh jawaban. Aku hanya ingin kamu tahu.”
Ben menunduk, diam. Tak kudengar suaranya, dia  terlihat sedang berpikir. Mungkin menilik apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Cukup lama detik bergulir lambat, angin berhembus membelai wajah basahku. Awan kelabu berarak menutupi langit biru, rupanya langit akan menaburkan kristal-kristal beningnya. Entah berapa lama, aku masih menunggu Ben memberikan respon. Sampai akhirnya dia mendongakkan kepala, ada getir yang sulit kubaca dari raut wajah tampan itu. Tiba-tiba saja aku sudah ada dalam peluknya. Aku tahu, aku bisa mengartikan semua ini dan aku bisa merasakannya. Dia… Dia juga mencintaiku.
***
“Aku tahu. Tapi itu tidak mungkin. Maafkan aku, Mel,” ucapnya. Jiwaku yang merantau dalam bayang masa lalu kembali pada masa yang sedang kujalani. Suaranya terdengar merdu di telingaku meski tidak untuk hatiku. Dia bangkit dari duduknya, berdiri memandangku yang terus menunduk. “Kau menangis, Mel?” tanyanya, ada getir kecemasan dalam suaranya. Dia meraih daguku, mendongakkan kepalaku sehingga mata kami dapat saling bertemu. Mata kecoklatannya menatapku teduh. Begitu dewasanya dia menghadapiku, padahal selisih usia kami hanya lima tahun. “Jangan menangis, Mel. Maafkan aku telah melukaimu,” pintanya. Tangannya bergerak membelai pipi putihku, menghapus tiap jejak air mata yang tertoreh.
“Kalau begitu jangan tinggalkan aku. Batalkan niatmu untuk menikahinya,” sergaku cepat. Perasaan tak ingin kehilangan dia terlalu kuat menggebu dalam hatiku. Dia menggeleng, menyatakan penolakannya. Aku mencekal kedua pergelangan tangannya. “Aku mohon!” pintaku. Aku terpaksa merendahkan diriku dengan memohon kepadanya. Sungguh, aku masih belum bisa mengikhlaskannya. Aku tidak bisa melihatnya bersama wanita lain. Bayangan seorang wanita manis berambut panjang, wajah Indo-Belanda, berkulit putih dengan usia sepantaran dengannya muncul dalam benakku. Dia baru mengenalkannya tiga hari yang lalu, wanita yang menjadi tunangannya itu. “Lihat aku dan katakan kau tidak mencintaiku!” paksaku.
“Maaf, Mel… aku tidak bisa. Kita tak seharusnya seperti ini. Seandainya saja Mama Neli tidak mengangkatku sebagai anaknya, mungkin kita tidak akan sesulit ini. Kau keponakanku. Kita tak mungkin menyatu.”
“Tidak! Jangan lakukan itu! Aku tidak mau kehilanganmu, Ben. Ini terlalu menyakitkan untukku.” Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Luapan tangisku sudah menjadi-jadi, histeris mungkin. Dia memelukku erat, membisikan sesuatu di telingaku. Sebuah kata penuh penyesalan, “Maaf, Mel.” Pelukannya ini akan jadi pelukan perpisahan yang mengakhiri petualangan cintaku dengannya. Dan untuk terakhir kalinya aku membiarkan diriku terbenam dalam kehangatan cintanya, cinta yang tak mungkin bersatu. Biarlah kurasakan untuk terakhir kalinya, sebelum dia menjadi milik wanita lain. Hanya sampai di sini kisahku dengannya, berakhir dengan kepedihan.


END...

Cinta Yang Tak Mungkin #1


Angin berhembus lembut membelai kulitku. Di hadapanku hamparan bunga mawar tersaji dengan begitu cantiknya, merekah indah berwarna merah dan putih. Alunan gesekan dedaunan yang tertiup angin menyuarakan melodi alam nan merdu. Meski begitu, itu tak cukup membuat suasana diantara aku dan dia menjadi lebih hangat seperti biasanya.
“Aku akan menikahinya.” Suaranya memecah keheningan di antara kami. Mataku membola diikuti dengan gerakan kepala meneleng, memandangnya penuh ketidakpercayaan. Ucapannya laksana pisau tajam yang menusuk tepat di jantungku. “Kita tidak bisa lebih dari ini,” sambungnya lagi. 
Aku menunduk menahan kristal bening yang menggenang pada kelopak mataku. “Aku mencintamu. Bahkan sangat mencintaimu,” ujarku serak. Aku rasa sebentar lagi butiran kristal ini akan jatuh. Semua terasa masih hangat dalam ingatanku, kenangan pertemuanku dengannya.
“Mel, kenalin ini om kamu. Namanya Ben.” Mama memanggilku ketika melihat aku memasuki ruang tamu. Di depan mama duduk seorang pria muda tampan berkulit putih, mata agak sipit dengan bola mata abu-abu, rambutnya tertata rapi dengan model Caesar Cut. Pria muda itu berdiri menyambutku. Aku mengernyit memandangnya. Baru kali ini aku bertemu dengannya, saudara yang tak pernah kuketahui keberadaannya. “Ben, Ini Meli, anakku,” ujar mama memperkenalkan aku kepada pria bernama Ben itu.
Ben mengulurkan tangan kepadaku, mengulum senyum ramah yang khas. “Hay, Mel. Apa kabar?” sapanya ramah. Ada getar asing dari suara bassnya. Selayaknya logat orang asing, nada orang bule yang baru belajar bahasa Indonesia. Kontras sekali dengan wajah Jawanya.
Dia masih mengulas senyum manis yang menampakkan cekungan di kedua pipinya. Mataku berbinar memandang pesona aura yang memuncrat dari sikapnya. “Om?” seruku. Lebih merupakan sebuah pertanyaan tersingkat yang menyatakan keherananku pada makhluk tampan di depanku. “Mama tak pernah cerita? Bahkan aku tak pernah bertemu dengannya,” sambungku sembari memutar kepala memandangi mama yang berdiri tak jauh dariku. Aku harap dapat mendapatkan penjelasan lebih atas ini semua. Aku memang tak pernah melihat pria semenakjubkan dia dalam hidupku. Pertemuan pertama saja sudah semempesona ini, bagaimana selanjutnya?
“Ben ikut Oma Neli tinggal di Belanda. Baru kali ini dia kembali ke Indonesia,” terang mama. “Waktu kecil kamu pernah bertemu dengannya. Bahkan kalian sempat bermain bersama.” Mama berlenggok menjejakkan kakinya mendekatiku. Tangannya yang halus menepuk bahuku, kesan hangat langsung terasa. “Apa kau tidak ingat, Mel? Ben ini hanya selisih lima tahun darimu.”
Pertanyaan mama itu membuatku harus menguras isi kepalaku, mencoba memutar kembali film lama yang sudah bertahun-tahun kulupakan. Sesosok bayangan laki-laki kecil yang selalu membuatku menangis menampakkan wujudnya di dalam kepalaku. Ah, itu dia rupanya, pikirku. Laki-laki kecil nakal yang sekejap kutemui dulu, kami memang tak lama bertemu waktu itu. Tiga hari bersamanya dan aku selalu dibuatnya menangis. Kulihat Ben tersenyum. Sepertinya dia cukup mengingatku. Senyum itu entah senyum ramah atau senyum menertawakan masa-masa itu. Air mukaku yang sempat berbinar berubah, sedikit tertekuk kesal. Kebencianku atau mungkin dendam yang tak sempat tersalurkan mencuat. Langsung saja kulangkahkan kakiku menuju kamar tidurku, tak kuhiraukan suara mama yang memanggil namaku. Menyesal aku sempat terpesona dengannya tadi.
***
Menginjak tiga bulan aku mengenalnya. Kian hari, sosok Ben terus saja menghantui hidupku. Tentu saja, dia kan tinggal satu atap denganku. Dia selalu baik dan ramah terhadapku, tak tampak sedikit pun kejahilan masa lalunya dulu. Perlahan aku mulai menghapus tiap jejak kebencianku terhadap Ben. Kuterima dia selayaknya om atau kadang seperti teman bahkan kakak. Dia sosok menyenangkan dan hangat.
“Meli, kenapa kamu?” tanya pria tampan yang akhir-akhir ini ada dalam kehidupanku. Dia menginjakkan kakinya dalam ruang pribadiku. Aku berbaring telungkup di atas tempat tidur, membenamkan wajahku di atas bantal. Aku tak ingin dia melihat derai kristal yang terus mengucur dari mataku, aku menghapusnya kasar. Hari ini adalah hari terburuk sepanjang hidupku. Kekasih yang mengisi relung hatiku telah menorehkan sebaris luka di hatiku. Dia mengkhianatiku, bersama sahabat yang sangat aku percayai. Luka ini begitu menyakitkan. Aku makin terisak mengingat saat-saat aku memergoki mereka jalan berdua tadi.
Aku bisa merasakan sebuah gerakan yang tiba-tiba hadir di atas tempat tidurku. Ya, seseorang sedang duduk di pinggir tempat tidurku, tepat di sebelahku. Tangannya yang kokoh membelai rambutku lembut, menenangkanku. “Ada apa, Mel?” tanyanya, masih dengan suara yang sama, ramah dan hangat. “Jangan menangis lagi. Katakan padaku apa yang telah menyakiti hatimu? Kau bisa bercerita kepadaku,” lanjutnya. Sebuah ucapan meyakinkan yang membuatku membalikkan badan dan langsung menghambur dalam dada bidangnya. Dia lagi-lagi membelai rambutku. Aku menceritakan semua kepadanya, setiap luka yang tergores dan masih segar itu kutumpahkan kepadanya. “Sudah, tak usah bersedih. Ambil saja hikmah dari semua yang terjadi, Mel. Tuhan punya rencana lain untukmu. Dia hanya sedang menunjukkan bahwa lelaki itu memang tidak pantas untukmu. Kau bisa mendapatkan yang lebih baik darinya,” ucapnya lebih terdengar seperti seorang kakak yang menenangkan adiknya yang bersedih. Dia mengurai pelukan. Jemari halus tangan kanannya mengusap pipiku, menyirnakan tetes air yang membasahinya. “Dan tentang sahabatmu, aku yakin dia hanya khilaf. Tergoda sebentar oleh pesona cinta yang diiming-imingkan kekasihmu itu. Bukankah kalian sudah bersahabat lama? Jangan terlalu membencinya, beri sedikit ruang untuknya jika dia telah sadar dan kembali kepadamu.” Kebijaksanaannya meluluhkan hatiku yang membeku, dan entah apa yang kemudian merasuki hatiku. Kurasakan sesuatu yang berwarna hinggap di dalam sini, tepat di hatiku. Rasa yang tak seharusnya hadir mewarnai mulai berkembang.
***

Bersambung....