Rabu, 05 Desember 2012

HARUHARU (6 *END)


Pagi-pagi sekali, Hana sudah rapi. Penampilannya seperti biasa cantik dan menawan. Setelah memastikan penampilannya sudah sesuai yang diinginkannya melalu cermin riasnya, Hana menyambar tas, membuka pintu dan berjalan menuju Handa Jazz-nya.
Baru pukul 7.30, tapi lalu lintas Jakarta sudah mulai memadat. Padahal ini hari sabtu. Beberapa kantor pasti libur. Jakarta seperti tidak mengenal kata libur atau lengang. Pengendara motor, mobil dan angkutan umum saling berjejalan di jalan beraspal yang sudah tidak lagi lebar. Bunyi klakson dan umpatan yang keluar dari mulut beberapa pengendara menggema mengiringi deru kendaraan bermotor yang lalu lalang. Kapan ya Jakarta bisa sedikit lega dan ramah? Batin Hana dibalik kemudinya. Dia masih cukup punya kesabaran untuk melintas menembus lalu lintas kota Jakarta pagi ini. Tujuannya hanya satu, mengunjungi Daffin.
Hana tidak pernah lelah menemani pria itu. Setiap saat bahkan ia ingin bisa selalu bersamanya. Sayangnya, itu semua tidak bisa terwujud sebagaimana mestinya. Daffin hanya menganggapnya sahabat, tidak lebih. Hana harus menelan kepedihannya karena bertepuk sebelah tangan itu sendiri. Dia tidak bisa menyalahkan siapa pun. Daffin dengan segala pesona yang dimilikinya tidak bersalah atas cinta yang dimiliki Hana untuk pria itu. Cinta itu datang dengan sendirinya tanpa bisa dicegah.
Setengah jam perjalanan dari rumah ke rumah sakit berhasil Hana tembuh dengan baik. Setelah memarkirkan Jazz merahnya, gadis itu segera menjejakkan kakinya di lorong rumah sakit. Daffin masih berada di ruang yang sama. Meski Daffin terbaring dengan alat-alat yang menyiksa, Hana patut bersyukur karena pria yang dicintainya itu tidak harus dirawat di ruang ICU. Pilu rasanya jika melihat itu terjadi. Membayangkannya saja Hana sudah ngeri dan sedih.
“Selamat pagi,” sapa Hana begitu memasuki ruang rawat Daffin. Ruang itu sepi. Tidak ada perawat, dokter maupun kedua orang tua Daffin yang menjaga. Hana melangkah perlahan karena sapaannya tidak mendapat jawaban. Pasti Daffin masih tertidur pulas. Dan benar. Saat Hana sudah mencapai di dekat tempat tidur Daffin, pria itu memang masih memejamkan mata. Hana memandanginya dalam-dalam. Wajah yang pias dan lemas. Tulang-tulang pipinya mulai tampak menonjol. Daffin semakin kurus. Hana mengulurkan tangannya, menggenggam sebelah tangan Daffin.
“Jessica…” gumam Daffin saat merasakan seseorang menyentuhnya.
Hana tersentak. Dadanya terasa sesak. Bukan namanya yang dikumandangkan bibir Daffin, melainkan Jessica. Hana tidak dapat menahan air matanya untuk keluar. Sekian tahun mereka saling mengenal, hanya Jessica yang selalu ada di hati Daffin. Pria itu tidak pernah sekali pun melupakan pujaan hatinya itu. Hana sudah tahu pasti itu. Tapi, keegoisannya menolak untuk mengakuinya. Rasa egois yang menginginkan Daffin juga membalas perasaannya berontak pada kenyataan yang sebenarnya.
Gerak jemari Daffin menyadarkan Hana. Buru-buru dia mengusap air mata yang tadi meleleh membasahi wajahnya. Perlahan mata Daffin membuka.
“Lo udah bangun?” sapa Hana. Daffin menarik ujung bibirnya ke atas dengan susah payah.
“Sejak kapan lo datang?” tanya Daffin.
“Baru lima belas menit lalu,” jawab Hana.
Daffin tak menjawab. Ia mengalihkan pandangannya ke depan, menatap kosong langit-langit rumah sakit yang putih. “Nanti malam gue bakal dioperasi,” ujar Daffin datar.
Hana tidak terkejut mendengarnya. Jauh-jauh hari sebelumnya, rencana itu memang sudah pernah ia dengar. “Lo harus kuat!”
“Hmmm… kemungkinannya 20%.”
Hana tahu resiko apa yang akan didapat dari operasi yang akan dilakukan Daffin. Hanya 20% operasi ini bisa berhasil, kemungkinan Daffin dapat bertahan hidup hanya 20%. “Tapi lo tetap harus kuat,” kekeh Hana.
“Gue nggak bisa janji.”
“Lo nggak boleh menyerah, Fin!” Hana tidak dapat menahan emosinya, juga air matanya yang turun.
“Gue tahu. Thanks lo udah ada di samping gue.”
“Gue bakal benci sama lo kalau lo nyerah sama penyakit ini!” ancam Hana.
“Penyakit apa?” Tanpa Hana sadari, sejak Hana keluar rumah ia sudah diikuti. Seorang pria berkaca mata masuk menghampiri Hana dan Daffin. Hana terkejut melihat pria itu. Sedangkan, Daffin mengulas senyum di bibirnya. Ia sudah siap akan hal ini.
“Hay, Les… akhirnya lo ngunjungin gue juga,” ujar Daffin.
Hana menoleh memandangnya tidak mengerti.
Lesnar mendekat dan berdiri di samping kanan Daffin–berseberangan dengan Hana yang berdiri di samping kanan Daffin. “Lo sakit apa?” tanya Lesnar.
Daffin tersenyum lagi. Lesnar tahu Daffin tidak akan menjawabnya. Jadi, ia mengalihkan pandangannya pada Hana. “Bisa jelasin ke gue, Han?” desaknya.
Hana memalingkan muka, tidak mau menjawab.
“Oke, kalau kalian nggak mau menjawab, gue akan…”
“Kanker pancreas,” potong Daffin. “Gue kena kanker pancreas stadium akhir.”
Lesnar membelalak mendengarnya. Dengan gemas ia meremar rambutnya dengan kedua tangan. Frustasi dengan kenyataan yang tak terduga itu. “Jessica tahu ini?” tanyanya kemudian. Daffin menggeleng lemah. “Kenapa?” lanjut Lesnar.
Sorot mata Daffin berubah pilu. Lesnar mencoba mengartikannya sendiri tanpa mendengar kata-kata dari mulut sahabatnya. “Tapi dia berhak tahu,” ujar Lesnar.
“Nggak. Dia nggak seharusnya tahu,” balas Daffin.
“Tapi apa lo nggak mikir gimana perasaan dia? Lo udah nyakitin dia dengan…” Lesnar tak dapat meneruskan kata-katanya. Dia masih bingung dengan hubungan Daffin dan adiknya. Sungguhankah atau sandiwara?
“Justru karena gue mikirin perasaannya makanya dia nggak boleh tahu ini. Dia nggak boleh berada di dekat gue saat gue sekarat,” ujar Daffin.
Lesnar mendesah pasrah. Ia tidak berkata apapun, pergi adalah jalan terbaik agar emosinya tidak bertambah buruk. Cukup sudah mengetahui kenyataan yang mengecewakannya ini. Ia tidak mau terus berdebat dengan Daffin yang sudah sekarat itu.
Daffin menahan lengan Hana yang ingin mengejar kakaknya. Pria itu menggeleng pelan, seolah mengucapkan kata “biarkan dia sendiri”. Hana menurut, tetap berdiri di samping pria itu. Mungkin memang lebih baik dia tetap berada di dekat Daffin mengingat nanti malam pria itu sudah harus dioperasi. Mata Hana mendadak memanas bila mengingat kemungkinan yang akan terjadi nanti. Kemungkinan keberhasilannya hanya 20%. Apa dia sanggup menerima kemungkinan terburuknya?
“Kenapa?” tanya Daffin yang sejak tadi memandangi Hana. Dia melihat ada mata Hana memerah.
Hana menggeleng cepat, mengusir kesedihannya dan tersenyum ceria.
“Han, gue boleh minta sesuatu dari lo?” ucap Daffin kemudian.
“Apa?”
“Jagain Jessica ya, jangan tinggalin dia apapun yang terjadi. Dia selalu kesepian, dia butuh teman, Han. Dan gue rasa Cuma lo yang selalu bisa jadi temannya, sahabat dekatnya,” tutur Daffin.
“Tap-tapi, Fin… Jessica benci gue. Dia pasti nggak mau terima gue lagi.” Hana tidak menolak permintaan Daffin. Dia hanya merasa tidak yakin Jessica mau berteman dengannya lagi. Dia sudah melukai hati sahabatnya itu dengan bersandiwara menjadi kekasih Daffin.
Daffin menarik ujung bibirnya ke atas dengan susah payah. Badannya mulai melemah. Bahkan untuk tersenyum saja begitu susah. “Dia akan memaafkan lo, Han.”
Hana terdiam. Apa itu benar? Apa Jessica akan memaafkannya?
“Itu bukan salah lo, Han. Jess pasti maafin lo,” lanjut Daffin.
Tapi gue menikmati saat-saat bersama lo, Fin, balas Hana dalam hati. Gue secara nggak langsung udah ngekhianati Jessica.
“Semua akan baik-baik saja, Han.”
Hana mencoba meyakini ucapan Daffin meski sebenarnya ia tidak merasa yakin. Ia mengangguk percaya.
“Gue lelah, gue mau tidur dulu.” Tanpa meminta persetujuan Hana, mata Daffin sudah terpejam lebih dulu.
@-@

Tidak ada sedikit senyum di wajah mereka. Tegang, takut, cemas, dan sedih. Hanya perasaan-perasaan seperti itu yang bercongkol di hati mereka. Sebagian memilih diam dan menyimpan apa yang dirasanya sendiri. Sebagian yang lain mengekspresikannya secara nyata lewat air mata yang keluar. Ya, seperti yang dilakukan wanita paruh baya itu. Dia menangis perlahan di dalam dekapan suaminya. Viona masih belum dapat menerima kemungkinan terburuk yang akan terjadi selanjutnya.
Alex dan Leon memilih bungkam, duduk di salah satu bangku di depan ruang operasi. Hana pun melakukan hal yang sama, sesekali ia mengusap air matanya. Lesnar sedikit menjauh dari kedua temannya. Sengaja menjaga jarak. Hatinya masih sedikit kesal dengan keputusan Daffin yang menyembunyikan penyakitnya dari Jessica.
Sebuah ranjang di dorong melewati ketujuh orang itu. Di atasnya Daffin terbaring lemah. Ranjang dorongnya berhenti sebentar di ambang pintu. Viona menggenggam tangan putranya. Seolah tak ingin melepasnya karena takut kehilangan. “Mama jaga diri baik-baik ya!” pesan Daffin pada Viona. Wanita paruh baya itu menggeleng lemah. Bukan, bukan itu yang ingin didengarnya.
Pandangan Daffin beralih pada kedua sahabatnya, Alex dan Leon. “Lo harus hidup, Daff!’ tuntut Alex. Berusaha menyemangati sahabatnya.
“Iya, lo harus kuat di dalam sana nanti.” Leon menyahut.
Daffin hanya mengulas senyum kecil untuk kedua sahabatnya. Giliran Hana mendekat pada Daffin. Sebutir air mata meluncur dengan mulus di pipinya. “Lo masih ingat janji lo kan, Han?” ujar Daffin. Hana mengangguk sekali. “Cuma itu yang gue minta. Jangan terlalu bersedih ya!”
Hana tidak sanggup menahan luapan kesedihannya. Dia menutup mulut dengan sebelah tangannya lalu beranjak pergi. Ucapan Daffin mengisyaratkan kalau itu adalah pesan terakhirnya.
Setelah itu, suster kembali mendorong ranjang Daffin memasuki ruang operasi. Sekitar dua jam lamanya Daffin akan terkurung dalam ruangan itu, mempertaruhkan nyawanya. Entah hidup atau mati setelah itu.
@-@

Semua masih diam terpaku di depan ruang operasi. Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan. Tapi hanya itu yang bisa mereka lakukan. Lesnar merasa jenuh. Ia menyinggir. Ia tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Jessica harus segera tahu masalah ini. Dikeluarkannya HP dari sakunya. Setelah menekan tomboh dial untuk nomor Jessica, Lesnar menunggu teleponnya dijawab.Tidak perlu waktu lama. Dua detik terdengar bunyi krek pertanda diangkat oleh sang empunya telepon. “Jess?” seru Lesnar.
“Hai, Les.. lo dimana?” Suara Jessica terdengar riang.
Lesnar menarik napas dalam-dalam sebelum mulai membuka suara lagi. “Gue di rumah sakit, Jess.”
“Rumah sakit? Lo sakit, Les?” nada suara Jessica terdengar cemas.
“Nggak, Jess. Bukan gue. Ini tentang Daffin….” Lesnar pun memulai menceritakan semua yang ia tahu tentang Daffin pada Jessica. Bibir gadis itu bergetar. Kakinya serasa lemas dan tak mampu menopang tubuhnya untuk tegak berdiri.
“Jess… jess…” Beberapa kali Lesnar memanggil gadis itu karena tak kunjung mendapat jawaban apapun dari seberang. Lesnar jadi sedikit cemas.
Jessica mencoba kuat. Ia harus ke sana. ia harus menemui Daffin. Tanpa mempedulikan suara Lesnar di handphonenya, gadis itu berlari keluar apartemennya. Tujuannya adalah rumah sakit.
@-@

Jessica menghentikan larinya saat ia mulai mendapati orang-orang yang dikenalinya duduk di sebuah ruangan. Langkahnya terasa berat. Dengan gontai ia mendekat ke ruangan itu. Di dalam pasti ada Daffin, batinnya. Ia bertekad untuk menemui pria yang dicintainya itu. Hana menahan lengan Jessica. Dengan lemah Jessica memutar kepalanya menatap Hana. Air mata Jessica sudah menggenang di pelupuk mata. Hana merogoh sesuatu di dalam saku jeansnya. Sebuah benda yang kemarin Daffin titipkan padanya. Logam emas putih kecil berbentuk lingkaran dengan sebuah butir berlian mungil. Hana meletakkan cincin itu di atas telapak Jessica tanpa berkata-kata.
Jessica memandangi benda itu. Air matanya jatuh seketika. Itu cincin pertunangannya dengan Daffin. Jessica tidak dapat menahan diri lagi. ia ingin bertemu Daffin. Jessica berlari cepat menuju pintu ruang operasi. Terkunci. Ia tidak bisa masuk. Kedua tangannya mengepal, menggedor pintu itu, berharap bisa masuk. “Buka! Buka! Gue mau ketemu Daffin!” teriaknya histeris sambil berlinangan air mata. Sontak Alex dan Leon menghampiri Jessica. Menahan kedua bahu Jessica untuk menjauhi pintu itu.
“Jess, tenang!” Alex mencoba menenangkan.
“Daffin, Lex… gue mau ketemu Daffin!” teriak Jessica.
“Iya. Nanti. Dia masih dioperasi, Jess.”
“Hiks hiks hiks.” Jessica menangis tersedu. Dia tidak lagi berontak seperti tadi.
Krek. Pandangan semua mata teralih. Sebuah ranjang didorong keluar dari ruang operasi. Sontak semua orang berlari menghampirinya.
“Daffin!” Ledak tangis Viona yang pertama kali terdengar. Oscar meraih tubuh istrinya, memeluknya. Berusaha tegar meski sebenarnya ia juga sedih. Di atas ranjang itu sebuah selimut putih menutup tubuh kaku yang terbaring di atasnya. Kenyataannya Daffin telah tiada.
“Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungki. Tapi nyawanya tidak dapat ditolong…” Seorang dokter pria menghampiri Oscar, mengatakan rasa sedihnya. Oscar terdiam. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Alex dan Leon berdiri kaku. sahabatnya sudah tiada. Mereka cukup syok. Sedangkan, Hana menangis dalam diam. Lesnar pun tidak jauh beda dengan Alex. Tapi dia masih cukup sadar untuk berusaha menenangkan Jessica yang menangis sambil menggoyang-goyangkan tubuh Daffin.
“Daff, bangun… jangan tinggalin gue! Lo jahat, Daff!” histeris Jessica.
“Jess, Daffin udah pergi,” ujar Lesnar. Direngkuhnya tubuh Jessica.
“Daffin, Les… Daffin…” Gadis it uterus bergumam. Mendadak kepalanya berputar. Kenyataaan menyakitkan itu seperti menghantam kepala dengan keras. Tubuh Jessica melemas hingga tak sadarkan diri. Untunglah Lesnar menangkap tubuhnya untuk tidak roboh.


@.@

Di sinilah Jessica berdiri. Sebuah gundukan tanah yang tertutupi rumput jepang. Beberapa helai mawar mengering di atasnya. Sudah hampir sebulan Jessica tidak mengunjunginya. Ia berjongkok, meraup helaian kelopak mawar dari kantung plastik hitam yang dibawanya. Lalu menaburkan di atas gundukan itu.
Kejadiannya seperti baru kemarin terjadi. Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Jessica. “Mom…” Sebuah suara menyadarkan Jessica. Ia menoleh, menatap seorang anak lelaki berumur lima tahun yang menatapnya sendu. Buru-buru Jessica mengusap air matanya. Anak lelaki itu mendekat dan memeluknya erat. “Mom, jangan sedih. Masih ada Jayden di sini. Kalau Mom sedih kasihan dady di sana, pasti ikut sedih juga,” ujar anak lelaki itu.
Jessica mengangguk perlahan. Dia tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Masih ada Jayden di sisinya. Satu-satunya peninggalan Daffin yang paling berharga. Jessica bersumpah akan menjaga anaknya itu dengan baik. Satu-satunya yang selalu membuat Jessica bertahan selama ini hanyalah Jayden. Jika bukan karena mengatahui ada Jayden dalam perutnya, mungkin dulu ia sudah mencoba bunuh diri setelah kematian Daffin.
“Sudah selesai!” Suara berat seorang pria menyadarkan Jessica. Ia berdiri setelah melepas pelukan Jayden.
“Papa…” Jayden menghambur memeluk pria itu. Jessica tersenyum melihat kelakuan anaknya itu. Ayah kandung Jayden memang telah tiada bahkan sebelum anak itu terlahir di dunia. Tapi Jessica tetap bersyukur karena ada Lesnar yang bersedia menjadi sosok seorang ayah bagi Jayden. Anaknya tidak pernah kehilangan kasih sayang sedikit pun. Dan Jessica perlahan kembali kuat karena kehadiran Jayden dan Lesnar di sisinya.

-end-

Selasa, 16 Oktober 2012

Rasa Sesak

hari ini rasanya aku ingin menangis.. 
Lelah yang kurasa 
atau mungkin jenuh yang menua? 

Entah rasanya aku hanya ingin menangis... 
Untuk kecewa yang berlalu dalam diam 
Untuk sesal kepahitan jalan 

Aku ingin menangis 
Bukan karena sedih cintaku tak berujung bahagia 
bukan juga karena kesendirian yang selalu menemani.. 
Bukan... bukan karena itu.. 

Ini tangis luapan rasa yang terpendam.. 
rasa yang kubiarkan dalam diam 
Sedikit pun ia tak bersuara meski berontak ingin dilakukannya.. 

Ya... menangis saja... 

Tapi mereka selalu mengatakan... Tegarlah untuk segala kerikil yang menyayatmu...jalan itu masih panjang.. dan ini hanya secuil ujian kehidupan.. 

Karena itu aku cukup menangis untuk-Nya... 
Untuk dosa dan khilaf yang terjadi.. 
Untuk rasa syukur atas segala nikmat terhebat ini..


Semarang, 23 Agustus 2012

HALF MOON


Malam ini gelap begitu pekat. Tak ada secercah bintang. Mendung seperti mengepakkan sayapnya dan menyelubungi bintang-bintang agar tak terjamah mataku. Bulan jadi malu menampakkan dirinya yang hanya separo itu. Setengah gelap, setengah terang kekuningan. 

Dengan suasana seperti itu yang galau akan makin galau mungkin. Tapi tidak buatku. Hari ini aku lebih menikmati semu kegiatan yang kulalui. Padahal kemarin-kemarin aku sempat mendidih. Entah karena apa aku tak tahu. Tersulut tanpa sebab. Yang kuduga mungkin karena aku sedang jenuh dengan rutinitas yabg itu melulu. Aku memang tergolong orang yang mudah bosan. 

Huft. kuhembuskan napas pelan. Angin berhembus semilir menerpa tubuhku yang sedang terduduk pada bangku bambu di bawah pohon mangga. Lagu You and Me dari Suju mengalun dari earphone HPku. Saat bermelow-melow ria, tiba-tiba saja mendadak ada yang menggigit kulitku. Sial! Para nyamuk ikut serta menemaniku. 

Tak mau jadi mangsa para nyamuk super ganas, aku memilih menyingkir. Mending darahku kudonorkan pada PMI daripada kuberikan pada para nyamuk kurang ajar itu. Saatnya cabut!


Semarang, 22 September 2012

LEGENDA CINTA KARANG PENGANTIN


Karang yang disebut sebagai karang Pengantin atau karang Langka-langka ini, berbentuk dua orang yang sedang berpelukan karena memiliki legenda atau cerita tersendiri yang masih beredar dari mulut ke mulut di warga Pulau Panggang dan tersimpan sampai saat ini.
Asal muasal karang ini terbentuk, seperti kisah yang beredar di warga Pulau Panggang, berawal ketika seorang Pemuda Pulau Panggang, katakanlah Amsar, menikahi Pemudi yang merupakan putri Tokoh Masyarakat Pulau Panggang. Katakanlah si Pemudi bernama Fatimah. 
Waktu itu, dan hingga sampai saat ini masih dipegang teguh, ada sebuah pantangan yang melarang pengantin yang baru menikah untuk menyebrang laut dalam kurun waktu sepekan bahkan walau hanya menyebrang ke Pulau Pramuka yang letaknya berdekatan dengan Pulau Panggang.

Larangan itu ternyata dilanggar oleh dua dua insan yang dimabuk cinta ini. Sehari usai menikah, mereka berdua menyebrang ke Pulau Pramuka dengan menggunakan perahu kecil. Karena berniat mengambil air, mereka membawa sebuah tempayan. 

Usai mengambil air di Pulau Pramuka, mereka kembali ke Pulau Panggang. Dalam perjalanan kembali ke Pulau Panggang, tiba-tiba kondisi cuaca di laut mulai berubah. Angin mulai berhembus kencang. 

Perahu yang dikayuh Amsar, terus bergerak. Istrinya memegang erat tempayan berisi air yang dibawanya. Tiba di atas karang langka-langka, angin yang berhembus semakin kencang. Perahu yang ditumpangi oleh pasangan pengantin yang baru menikah ini, mulai dihempaskan oleh ombak besar seiring datangnya angin kencang. 

Lama kelamaan perahu pun terbalik. Fatimah langsung terjatuh ke dasar laut  bersama dengan tempayan yang dibawanya. Sang suami yang mengetahui istrinya tenggelam ke dasar laut, langsung menceburkan dirinya untuk menolong istrinya. 

Karena ombak besar, dia berusaha menyelam. Namun, ketika sampai ke dasar laut, Amsar menemukan istrinya sudah tidak bernyawa lagi dengan posisi memeluk tempayan. Karena cintanya yang begitu mendalam terhadap istrinya, Amsar tak kenal lelah berusaha menarik jasad istrinya. 

Anehnya, semakin kuat usaha Amsar menarik jasad istrinya, semakin kuat juga tempayan menindih jasad Fatimah. Amsar semakin dibutakan oleh cinta terhadap istrinya. Dia pun bertekad ingin mati bersama istrinya. 

Air laut yang semakin bergelombang, semakin menguatkan niat Amsar untuk mati bersama dengan sang kekasih hati dan belahan jiwanya. Diapun memeluk jasad istrinya. Seusai Amsar kehilangan nyawanya, kondisi laut kembali tenang. 

Pantangan yang dilanggar oleh Amsar dan Fatimah ini, memberikan bukti. Karena terbukti, warga Pulau Panggang semakin teguh memegang tradisi. Karang Penganting atau Langka-langka ini pun berbentuk dua orang manusia yang sedang berpelukan. 

Beberapa penyelam pun melihat secara langsung bentuk batu karang yang menyerupai dua orang yang tengah berpelukan ini. Sampai saat ini, cerita Amsar dan Fatimah (keduanya nama rekaan), masih beredar dari mulut ke mulut dan menjadi salah satu cerita legenda Pulau Panggang.( Pulauseribu.co)

KESUKSESAN


Sering aku bertanya-tanya, kesuksesan itu apa sih? cirinya kayak gimana? Alat ukurnya itu apa? Dan bagaimana bisa menilai seseorang itu sudah sukses? 

Aku nggak kayak kebanyakan orang uang doyan ceramahnya Mr. MT (Baca: Mario Teguh). No! Terlalu banyak teori dan yach, membosankan berlama-lama mendengarkan omong doang. I need a prove supaya bisa ngerti. Jadi, kalau diminta buat menanyakan apa arti kesuksesan sama Mr. MT, aku pasti ogah buat ngelakuinnya. Mungkin bakal aku dengerin, masuk kanan keluar kiri. Percuma deh! 

Berdasarkan dari penglihatanku selama ini ke orang-orang yang katanya udah sukses sih... Kesuksesan itu kalau kita udah sampai puncak tertinggi dari apa yang udah kita lakukan. Padahal kan di atas langit masih ada langit? So, nggak pernah bakal puas sama yang namanya sukses. Bisa juga kalau kita udah berhasil ngalahin semua pesaing bisnis kita. Atau di saat kita sudah mencapai target-target dalan pekerjaan. Hmm.. okelah. Kira-kira seperti itu. 

Buat aku sukses itu kalau aku berhasil membuktika sama orang-orang bahwa jalan yang aku pilih ini tepat buat hidup aku dan yang pasti nggak merugikan siapa pun. Dan aku mensyukuri kesuksesanku saat ini. 
Karena kesuksesan kan nggak dinilai dari seberapa besar depositomu di bank atau seberapa kamu mampu traktir temenmu makan di restoran ternama. Bersyukur aja sama sekecil apapun hal yang udah diraih. Yah, meski sekarang kalau dinyatain dalam angka kesuksesanku cuma bisa dinilai dengan angka 1. Akan tetapi aku nggak mau menyerah. Secara perlahan pasti aku bisa merangkak pada puncak yang menjadi target tertinggiku. 

Kesuksesan itu nggak cuma butuh bakat. Stop thinking kalau cuma orang-orang berbakat aja yang bisa sukses. Bakat itu masuk uruta kesekian dalam faktor kesuksesan. Yang terpenting itu ada lima kalau menurutku. Usaha, kemampuan, semangat, doa dan keberuntungan. 

Kalau nggak ada usaha meski lo itu berbakat apa lo bisa sukses? 

Kalau lo nggak merasa mampu apa lo juga bisa sukses? Kemampuan dalam hal ini bukan duit lho. Tapi lebih ke cara lo buat bertahan dan terus maju. Makanya semangat juga penting. Jagan mudah berputus asa meski semua orang udah ngelukain lo pakai pedang samurai yang tajamnya minta ampun. Pakailah semangat para samurai Jepang yang pantang menyerah. 

Doa, udah pasti kita butuh itu. Supaya pencapaian kita lebih diperlancar dan dipermudah. 

Dan terakhir keberuntungan. Kan kata orang orang yang beruntung bisa ngalahin orang pintar. Nah cara supaya keberuntungan lebuh berpihak sama kita, ya banyak-banyakin berbuat baik. Nggak usah neko-neko pakai alat pembawa keberuntungan deh. Kan keberuntungan itu yang ngasih Tuhan, bukan dari benda-benda nggak bernyawa. 

Udah segitu aja aku ngeluarin uneg-uneg. Pesan aku buat yang baca, abaikan aja omongan-omongan negatif yang menghalangi kamu menuju pada kesuksesan. Ambil positifna aja guys. Jangan mudah menyerah. keep fighting, oke! 

JENUH ATAU KEBOSANAN YANG MENDERA


Jenuh atau bosan adalah salah satu dari sekian banyak sifat dasar manusia. Semua orang pasti pernah mengalami yang namanya bosan. 

Kita mencapai titik bosan di saat kita sudah kehilangan minat atau ketertarikan pada suatu hal, entah itu benda, kegiatan, pekerjaan atau yabg lainnya. Dan saat kita berada di titik jenuh atau bosan itu kita akan merasa yang sedang kita lakukan adalah kesia-siaan, membuang waktu dan tenaga. Tidak ada gunanya. Efeknya rasa malas akan mengelayuti kita. Pekerjaan yang sedang kerjakan menjadi tidak selesai. Rencana yang sudag disusun pun hancur berantakan, dan masih banyak lagi akibat buruk dari kebosanan. 

Nah, untuk menghilangkan kebosanan itu kita harus melakukan beberapa variasi yang membuat sesuatu itu menyenangkan. Jika bosan menulis, kita bisa berhenti sejenak. Sekedar jalan-jalan sebentar keluar rumah selama beberapa menit atau melakukan hal lain. Ketika bisa itu sudah lenyap dan pikiran kita kembali terang benderang kita bisa menulis lagi. 

Begitu pula ketika kita menjalani suatu hubungan. Misal dalam hal percintaan. Pasangan yang tidak mampu memberikan variasi dalam pemberian perhatian atau kasih sayang akan dianggap sebagai pasangan membosankan. Dan sering kita temui orang-orang melakukan perselingkuhan alasan utamanya adalah karena bosan dengan pasangannya. 

Sangat disayangkan ya, kalau kebosanan itu menjadi penghancur utama dalam percintaan. Maka dari itu agar pasanganmu tidak bosan kepadamu, rajin-rajinlah memberikan perhatian dengan cara yang berbeda. Bisa juga dengan cara menunjukkan apapun yang kita rasakan pada pasangan. Jika memang mencintai tunjukkanlah cinta Anda. Jangan menyimpannya sendiri sehingga membuat pasangan Anda mengira bahwa Anda sudah tidak mencintainya lagi dan akhirnya ia bosan dengan hubungan yang itu-itu melulu. Berikan juga kejelasab pada status hubungan Anda, jangan stay di tempat. Bukankah sesuatu hal yang dilakukan itu harus memiliki perkembangan yang jelas? 

Seringnya aku pun mengalami hal yang bernapa bosan itu. Melakukan suatu hak yang melulu itu benar-benar membosankan. Jika sudah pada titik itu, aku akan memilih berhenti mengerjakannya sebentar. Melakukan kegiatan lain dan ketika sudah kembali siap, aku akan melakukan kegiatan semulaku. Ini bukan berarti aku orang yang mudah menyerah lho. Beristirahat sebentar kan perlu juga. 

Demikian uneg-unegku tentang kebosanan. Nggak tahu bermanfaat apa nggak. Yang jelas aku cuma numpang nyampah catatan aja. Itung-itung buat ngilangin kejenuhanku nulis cerbung. heHehe. Semoga menghibur.

Rabu, 03 Oktober 2012

Haruharu (5)


Mata pemuda itu terpejam. Senyum yang biasa ia sunggingkan tak terlihat. Tubuh tegapnya kini terbujur kaku di atas pembaringan rumah sakit. Selang infuse melekat pada salah satu pergelangan tangannya. Bunyi mesin pendeteksi detak jantung menggema mengisi keheningan ruang rawatnya. Di salah satu sudut ruang itu seorang wanita paruh baya menahan tangis. Di sisinya sang suami dengan setia menenangkan. “Tidak akan terjadi apa-apa.” Itulah yang selalu sang suami ucapkan. Nyaris tak ada getar kesedihan dalam suaranya. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia ketakutan. Ia merasa tidak yakin. Benarkah anaknya akan baik-baik saja.
Vonis dari dokter yang memeriksa anaknya sudah ia dengar tadi. Ia terpukul hebat.
“Kanker pankreas stadium akhir.”
Bagaimana mungkin anaknya bisa menderita penyakit mematikan itu? Ia nyari tidak percaya terhadap pendengarannya sendiri. Mustahil! Selama ini Daffin selalu terlihat sehat dan baik-baik saja! Ia tidak mau mempercayainya. Itu tidak mungkin!
Oscar menatap nanar Daffin yang terbaring tak sadarkan diri. Istrinya – Viona – perlahan mendekati anaknya. Wanita itu masih berlinang air mata. “Kenapa ini harus terjadi padamu?” Viona menggenggam erat sebelah tangan Daffin. Viona pun sama seperti Oscar. Dia tidak bisa menerima kenyataan tentang penyakit anaknya. Daffin adalah satu-satunya anak mereka. Dulu Viona memang sempat hampir mendapatkan anak kembali. Tapi, tiga bukan setelahnya, Viona keguguran. Dan setelah diperikasa terdapat peradangan dalam rahimnya yang membuat Viona tidak dapat hamil kembali. Viona tidak mau kehilangan anak yang paling ia sayangi.
Gerakan kecil menyentak Viona yang tengah menangis. Jemari Daffin yang ia genggam bergerak. Viona sedikit lega. “Daffin…” lirihnya. Barang kali sebentar lagi anaknya akan bangun. Dan benar saja, Daffin perlahan membuka matanya. Dengan mata sayunya, ia memandangi wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu. Sayangnya, saat ini wanita itu menangis.
“Mama…” ucap Daffin lemah.
Buru-buru Viona bangkit berdiri. “Ada apa, Sayang? Mama di sini,” balas Viona.
Daffin tersenyum kecil. “Kenapa Mama menangis?”
Viona cepat-cepat mengusap air matanya. “Mama nggak nangis kok,” hiburnya. Senyum yang biasa ia lukis mulai terlihat kembali.
“Daffin buat Mama sedih ya? Maaf ya, Ma…” lirih Daffin.
Tangis Viona hampir saja kembali pecah saat mendengar ucapan anaknya itu. Untungya, Oscar mendadak berdiri di sampingnya. Melingkarkan lengannya erat pada pinggang Viona.
“Hey, jagoan! Molor mulu!” tegur Oscar berusaha senormal mungkin.
“Hmm… Papa mau ikutan nangis juga?” sindir Daffin.
“Enak saja! Mana mungkin Papa menangis?” balas Oscar tidak terima.
Daffin tersenyum lebar. Ia cukup terhibur melihat papanya tampak tegar. “Aku rasa Papa tadi nangis. Iya kan, Ma?” Daffin masih tidak mau kalah dan meminta dukungan dari mamanya.
Viola tersenyum pahit lalu mengangguk. “See… aku benarkan?” ujar Daffin.
“Kenapa kamu nggak pernah terus terang pada mama dan papa?” Oscar menjadi serius. Senyum di wajah Daffin lenyap seketika. Dia tahu apa yang dimaksud papanya. Pasti ini tentang penyakitnya.
“Aku Cuma nggak mau ngebebani papa dan mama aja. Aku nggak mau kalian sedih,” terang Daffin.
“Justru yang seperti inilah yang membuat kami sedih… karena kamu nggak mau jujur dari awal!” Tak ada keramahan sedikit pun di wajah Oscar saat ini. Rahangnya mengeras. Tangannya terkepal menahan emosi yang siap meledak. Viona mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Oscar. Menenangkan kegusaran suaminya.
“Maaf,” ucap Daffin penuh penyesalan.
Terdengar desahan napas panjang Oscar menyahut. “Sudahlah, lebih baik kita biarkan Daffin beristirahat. Kamu sepertinya juga perlu istirahat, Sayang,” ucapnya pada sang istri. Viona memandangi anaknya sendu. Ia tidak mau sedikit pun meninggalkannya.
Daffin dapat membaca jelas kekhawatiran mamanya. “Papa benar, Mom. Lebih baik Mama pulang dan beristirahat. Aku akan baik-baik saja.” Senyum tulus Daffin sunggingkan untuk mamanya.
Viona masih enggan pergi. Tapi, ia tidak bisa menolak gerak suaminya yang membimbingnya menjauh dari sisi Daffin. Dengan langkah gontai sepasang suami-istri itu keluar dari ruang rawat VIP yang mengurung Daffin.
Setelah ini bisa dipastikan semua orang akan tahu apa yang menimpanya. Daffin belum menyiapkan diri untuk itu semua. Untuk tatapan iba teman-temannya. Yang lebih pahit adalah jika Jessica mengetahuinya. Pasti gadis itu akan sangat terluka. Daffin tahu ia sudah berbuat salah dengan melukainya. Namun, bila mengetahui keadaannya Jessica akan lebih hancur. Gadis yang sangat dicintainya itu akan melihatnya mati perlahan. Hhhh. Daffin tersenyum pahit membayangkan itu terjadi.
Krek. Bunyi derit pintu terbuka menarik kesadaran Daffin dari lamunannya. Sesosok gadis berambut sebahu muncul. Wajah gadis itu tidak secerah biasanya. Pasti Daffin yang membuat senyum di wajah cantik gadis itu sirnah. Daffin mencoba untuk terlihat sangat sehat. Dia tersenyum untuk sahabat setianya, Hana.
“Akhirnya lo datang,” ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya yang bebas dari selang infuse. Hana mendekat balas menggenggam tangan Daffin.
“Gue baru tahu pagi ini,” sahut Hana. “Bagaimana keadaan lo?” Pertanyaan klise yang pasti akan ditanyakan oleh semua orang yang menjenguknya. Daffin sudah menyiapkan jawaban yang tepat.
“Gue sangat baik. Nggak usah cemas, oke?”
Hana mengangguk. “Gue tahu, lo pasti akan baik-baik saja.” Hana menyimpan rasa sedihnya dalam hati. Dia tidak mau membuat Daffin merasa sedih atau bersalah. “Semua orang nyari lo,” lanjut Hana.
Daffin memandang lekat manik mata Hana. Membaca apa yang terselip dalam pacaran mata gadis itu. Apa dia sangat sedih? Apa aku sudah melukainya juga? Sayangnya, tak ada apapun dari manik mata itu kecuali warna hitam pekat dan pantulan bayangan dirinya yang terlihat pucat. “Benarkah? Lalu apa yang lo bilang pada semuanya?”
Hana mengangkat kedua bahunya. “Nggak ada. Gue memilih untuk nggak berdekatan dengan mereka. Lo tahukan gue nggak bisa berbohong terus-terusan.”
“Hmmm… keputusan yang tepat. Tapi, gue rasa sebentar lagi mereka bakal tahu. Penyakit gue ini udah nggak bisa disembunyikan lagi. Apalagi sebentar lagi pasti pemakaman gue akan digelar. Mereka bakal sangat terkejut.” Daffin terkekeh menertawakan nasib yang akan menantinya tak lama lagi.
“Jangan berkata seperti itu. Gue nggak suka lo bicara seperti itu,” protes Hana. Ia meremas jemari Daffin. Memperlihatkan bahwa dirinya sedang cemas saat ini.
“Kenapa? Itu kenyataan kan? Aku memang akan…”
“Cukup, Daff. Jangan diteruskan,” potong Hana cepat.
“Bukankah gue sudah meminta lo untuk menyiapkan diri menerima ini semua jika yang terburuk terjadi?”
“Iya… tapi please jangan membahasnya sekarang. Gue belum siap.”
Daffin menyerah. “Oke.”
@-@

“Lo lihat Daffin nggak?” Alex akhirnya mengutarakan pertanyaan yang sejak beberapa hari ini bercokol dalam benaknya. Dia merasa sedikit aneh dengan ketidakmunculan sahabatnya, Daffin. Beberapa mata kuliah dilewatkannya begitu saja tanpa kabar yang pasti.
Leon yang ditanya hanya mengangkat bahu. “Lo udah ngehubungin dia?”
“Udah, tapi HP-nya mati.”
“Ngedatengin rumahnya gimana?” cetus Leon.
“Kenapa gue nggak kepikiran dari kemarin ya?” Alex seperti baru saja mendapat pencerahan. “Udah, yuk!” Alex menarik lengan Leon untuk mengikutinya.
“Eh, kita mau kemana?” tanya Leon bingung saat sudah berada dalam Volvo hitam milik Alex.
“Ke rumahnya lah! Kan lo yang ngusulin tadi,” jawab Alex tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan di depannya. Sementara tangannya sibuk memutar kemudi.
Leon nyengir lebar. “Oh, iya…ya.” Terkadang cowok berambut spike satu ini memang kelewat lemot.
@-@

Ting Tong…
Sudah tiga kali Alex menekan bel pintu rumah bercat serba putih itu, tapi tak kunjung mendapatkan balasan. Dia mulai tidak sabar menghentakkan kakinya kesal. “Kemana sih semua orang?”
“Pada pergi kali,” sahut Leon yang berdiri di samping Alex.
Alex hendak membuka mulut menanggapi Leon. Namun, urung ia lakukan ketika pintu di depannya terbuka. Seorang wanita tua menyambutnya. Bi Mirna, pembantu Daffin yang masih setia bekerja pada tuannya.
“eh, Den Alex sama Den Leon,” seru wanita tua itu berbinar.
“Kok lama sih, Bi? Daffin ada nggak?” buru Alex yang sudah tidak sabar.
Bi Mirna memamerkan giginya yang sudah tidak lengkap karena termakan usia itu. “Hehe, maaf Den. Bibi di belakang tadi lagi nonton ftv, jadi nggak denger,” terangnya.
“Daffin dimana, Bi?” Leon mengulang pertanyaan Alex yang belum sempat dijawab Bi Mirna.
“Lho emang Aden pada belum tahu?” sahut Bi Mirna.
Alex dan Leon saling pandang tidak mengerti. “Emang kenapa, Bi?” tanya Alex dengan kening berkerut.
“Den Daffin kan di rumah sakit. Sudah hampir seminggu ini lho,” jawab Bi Mirna.
“Sakit apa? Kok kita nggak diberi tahu?” Kali ini Leon yang bertanya dengan nada memprotes.
“Aduh, Bibi kurang tahu Den. Nyonya sama tuan nggak bilang. Tapi kayaknya serius banget sakitnya, Den. Nyonya kelihatan sedih banget tiap kali habis pulang dari rumah sakit. Nangis terus. Tuan juga jadi lebih banyak murung.”
Alex dan Leon jadi bertanya-tanya bercampur cemas. Sakit apa yang diderita sahabat mereka sampai bisa membuat kedua orang tuanya bersedih?
“Bibi tahu rumah sakitnya dimana?” Alex mencari tahu lebih lanjut.
“Tahu, Den. Rumah sakit Imperial, tapi ruangannya apa Bibi nggak tahu.”
Alex mengangguk. Tidak masalah, yang penting tempatnya tahu, pikirnya. “Ya, udah. Kita cabut dulu, Bi,” pamitnya.
Bi Mirna mengangguk. “Hati-hati, Den.” Wanita tua itu kembali menutup pintu rumah majikannya setelah bayangan kedua tamunya menghilang.
@-@
Alex dan Leon setengah berlari menyusuri koridor rumah sakit. Mereka berdua sudah tidak sabar melihat dan mengetahui apa yang menimpa sahabatnya, Daffin.
Di kamar 20A mereka berhenti bersamaan. Alex memutar handel pintunya. Ia yang pertama masuk. Matanya membelalak mendapati tubuh Daffin terbaring di atas kasur putih dengan alat-alat medis menempel pada tubuhnya. Begitu pula dengan ekspresi yang ditunjukkan Leon ketika melihat Daffin.
Mereka sulit mempercayai penglihatannya. Daffin terlihat berubah. Tubuhnya kurus. Wajahnya pucat seperti mayat. Rambutnya yang biasa rapi jadi acak-acakan. Seperti bukan Daffin sang cowok polpuler di kampus.
“Kita salah ruangan?” seru Leon.
Alex menggeleng pelan. “Dia Daffin, teman kita,” ucapnya tanpa keraguan sedikit pun.
Dahi Leon makin berkerut. “Tapi… orang ini lebih mirip mayat daripada Daffin.” Keduanya lalu terdiam memandangi Daffin begitu lekat. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Mau sampai kapan sih kalian mandangin gue kayak begitu? Naksir ya?”
Alex dan Leon terkesima mendengar komentar yang mendadak muncul. Mata Daffin yang terpejam sudah membuka. Ucapannya sedikit kabur karena masker oksigen yang membantu pernapasannya. Meski begitu Alex dan Leon dapat menangkap jelas apa yang diucapkan Daffin.
“Lo pura-pura tidur?” sungut Alex.
“Lo pikir gue bisa tidur nyenyak kalau di dekat gue ada orang yang ngatain gue mayat? Jelas-jelas gue masih hidup,” balas Daffin.
Alex dan Leon terkekeh. “Dia masih sehat kayaknya, Lex,” sahut Leon.
Alex mengangguk setuju.
“Ngapain sih kalian kemari?” tanya Daffin.
“Wah, kayaknya kehadiran kita nggak diinginkan, Lex,” dengus Leon. “Padahal kita tadi hampir mati konyol gara-gara cemasin dia.”
“Tauk tuh! Makhluk nggak tahu terima kasih.” Alex menambahi tak kalah sengit.
Daffin mengulum senyum. Tidak sedikit pun merasa kesal dengan cibiran pedas teman-temannya. “So, dari mana kalian tahu gue di sini?”
“Tadi kita ke rumah lo. Si Alex tuh kangen berat sama lo…Aw!” Belum selesai perkataan Leon, Alex sudah mendaratkan jitakan kerasa ke atas kepalanya. Leon meringis kesakitan sambil mengelus bekas jitakan Alex.
“Bi Mirna yang bilang. Emang lo sakit apa?” tanya Alex.
Daffin mengalihkan pandangannya kearah lain. Salah satu cara dia agar kedua temannya tidak dapat membaca beban pikiran yang ia sembunyikan. “Cuma tipes dikit,” dustanya. Alex mengernyit. Tidak mungkin tipes sampai seperti ini, pikirnya.
“Jangan berusaha bohongin kita deh,” ujar Alex.
Daffin tersenyum kecut. “Lo-lo pada udah puas kan lihat gue? Gue mau tidur lagi!” Daffin berusaha mengalihkan perhatian.
“Well, kalau lo nggak mau cerita nggak masalah. Kita bisa cari tahu ke tempat lain.” Alex tidak terlalu memperdebatkan keinginan Daffin untuk tidak berkata jujur. Lebih baik mencari tahu ke tempat lain. Dia bisa bertanya pada orang tua Daffin atau dokter. Alex membalikkan badan dan melangkah menuju pintu. Tapi saat akan mencapai pintu, ucapan Daffin menghentikan langkahnya.
“Gue harap lo nggak ngasih tahu ini ke Jessica. Gue nggak mau dia tahu.”
Alex menoleh. Begitu juga Leon yang mengekorinya. “Kenapa?” tanya Alex.
“Dia bakal sangat terpukul kalau tahu. Please, gue mohon jangan kasih tahu dia,” pinta Daffin.
Alex mengangguk meski tidak tahu apakah Daffin dapat melihat anggukan kepalanya itu. “Gue usahain,” tuturnya. Ia dan Leon pun keluar dari kamar rawat Daffin. Meninggalkan sahabatnya yang tengah terbaring sakit.


@-@
Hana menatap makan malamnya tanpa berminat untuk menyentuhnya. Malas dan tidak berselera. Bukan karena makanan apa yang disajikan, melainkan karena perasaannya sedang kacau saat ini. Bagaimana mungkin dia bisa dengan tenangnya makan sementara orang yang sangat ia sayangi sedang terbaring di rumah sakit, menyambut maut yang sebentar lagi akan datang. Memikirkan keadaan Daffin membuat Hana sulit menarik ujung bibirnya ke atas. Candaan teman-teman kuliahnya yang dilontarkan sewaktu kuliah pun tidak ia gubris. Hana lebih sering melamun di kelas selama beberapa hari ini.
“Lo lagi sakit?” tegur Lesnar pada adiknya. Dia merasa sikap adiknya aneh akhir-akhir ini. Sering melamun, tidak bersemangat, lesu, dan mungkin Hana menangis diam-diam. Tebakan Lesnar itu tidak mungkin salah. Dia dapat melihat jelas buktinya dari kelopak bawah mata Hana yang membengkak dan tampak hitam mungkin karena tidak tidur. Itu mencirikan bahwa adiknya sedang frustasi oleh sebuah masalah. “Kita ke dokter sekarang,” tutur Lesnar karena sejak tadi pertanyaannya tidak dijawab.
Hana menggeleng cepat. “Gue baik-baik aja kok. Gue sehat!”
“Tapi gue lihat lo lagi nggak baik,” balas Lesnar.
“Lo salah lihat kali.”
“Nggak! Gue nggak salah!” Lesnar masih kekeh dengan argumennya. “Apa lo lagi ada masalah?” tambahnya.
Hana menggeleng lagi. “Nggak ada,” jawabnya singkat.
“Apa Daffin nyakitin lo kayak yang dia lakuin sama Jessi?” tebak Lesnar.
“Daffin baik sama gue,” bela Hana.
“Lo nutupin sesuatu dari gue.” Lesnar dapat membacanya dari pancaran mata Hana. Ucapannya tidak salah. Adiknya sedang dilanda masalah yang cukup berat.
Daripada harus bergulat dengan perbincangan yang terus menariknya untuk jujur, Hana memilih untuk menyingkir. Yah, segera menyingkir sejauh mungkin.  “Gue ngantuk. Selamat malam, Kak!” tandasnya seraya bangkit meninggalkan Lesnar.
Gue harus cari tahu! Batin Lesnar sambil memandangi punggung Hana yang mulai menjauh dari pandangannya.