Senin, 28 Mei 2012

Gadis Musim Semi

Haruka menengadahkan kedua telapak tangannya,membiarkan kelopak bunga berwarna merah muda jatuh di atasnya. Ujung bibirnya terus saja tertarik ke samping, memamerkan senyum ceria. Wajah pucatnya terabaikan oleh senyum yg dilukisnya. Duduk di bawah pohon sakura membuat gadis berusia dua puluh tiga tahun itu tenang. Segala masalah dalam hidupnya terlupakan. 

Musim semi berjalan cepat. Kelopak-kelopak sakura sudah mulai berguguran menutupi rerumputan dan jalan di sekitarnya. Sesaat Haruka merasa sedih. Ia akan kehilangan musim semi yg amat disukainya. Atau yang terburuk ia yg akan menghilang sebelum musim semi itu berakhir. Semua usaha telah dilakukan untuk membuat Haruka menjadi lebih baik. Namun sepertinya kanker yang berkembang dalam darahnya tidak mau berkompromi. 

"Musim semi yg menyenangkan bukan?" Sebuah suara berat menyadarkan lamunan Haruka. Seorang pemuda berambut hitam agak panjang duduk di sampingnya. Haruka tersenyum kembali melihat pemuda itu. Kepalanya bergerak mengangguk. "Aku punya sesuatu untukmu," sambung pemuda itu. "Ulurkan tanganmu!" 

Haruka menurut, mengangkat kedua telapak tangannya ke depan. "Sekarang pejamkan matamu." Haruka memejamkan mata. Sedetik kemudian tangannya terasa berat. Sebuah benda telah mendarat di atas telapak tangannya. Perlahan ia membuka mata. Sebuah bola kaca dengan rumah mungil dan sebuah pohon sakura di dalamnya. Puluhan kelopak kecil berwarna merah muda melayang-layang di sekitar rumah itu. Ia seperti sedang melihat hujan bunga sakura dlm ukuran mini. "Untukmu, gadis musim semiku... agar musim semi selalu bersamamu seperti namamu... Haruka yg berarti musim semi," ujar pria itu. Melihat gadis musim seminya tersenyum riang ikut membuatnya bahagia. Hanya ini yg dpt kulakukan di saat-saat terakhir. Aku akan membuatmu selalu bahagia,janjinya dlm hati. 

"Cantik sekali. Arigato, Kazuo-san." Mata Haruka berbinar diiringi senyuman yg melebar. Ia benar-benar bahagia. Ya, musim semi akan selalu bersamaku sekarang. 

Semarang/11052012/Spring





Duka Dalam Penyesalan

Dia tercengang menapaki jalan setapak rumahnya. Beberapa orang berbaju hitam memandangnya nanar. Gadis berumur belasan tahun itu terus berjalan denga perasaan bingung dan penuh tanya. Bendera kuning melambai-lambai terpasang pada tiang teras depan rumahnya. Siapa yang pergi?
Gemuruh perasaan sedih, takut, dan cemas membuat gadis itu semakin memercepat langkahnya.

Suara isak tangis menyambutnya. Tubuh gadis itu kaku mendapati seonggok tubuh terbaring di tengah ruangan tertutup kain batik. Ia mengenalnya, amat dekat dengannya. Perasaannya makin kacau, sulit menerima kenyataan yang ia lihat. Meski begitu langkah kakinya tak berhenti mendekati seonggok tubuh itu.

Seorang pria berusia dua puluh limaan berwajah keras telah menutup mata dengan kulit yang memucat, tubuh terbungkus kain putih.

Tubuh gadis tadi tak mampu menahan gemetar yang menjalar tiba-tiba. Tubuhnya merosot seketika, jatuh terduduk. Butiran bening mengalir dengan lancar dari mata indah gadis itu. "Bagaimana bisa?" lirihnya.

"Kakakmu sudah tenang di sana." Hanya kalimat itu yg ia dapat dari seorang wanita paruh baya yang menepuk bahunya.

"Tidak." Gadis itu terlihat masih tak percaya. "Kemarin aku baru bertengkar dengannya!" pekikan histeris tak luput keluar dari mulut mungil itu.

"Aku benci Kakak!" Ia mulai kesetanan. Emosinya memuncak. Tangan kananya menyusup ke dalam tas ransel yang dibawanya, mengelurkan selembar kertas. "Lihat! Aku bisa lebih baik darimu. Aku lebih unggul," ucapnya pada sosok yang sudah membatu. Tak ada balasan. Orang-orang memandang ke tengah ruangan dengan tatapan iba.

"Lihat, Bu. Aku lebih baik dari Kakak." Pandangan gadis itu beralih pada wanita paruh baya di belakangnya. "Jadi mulai sekarang aku yg harusnya lebih diperhatikan," sambung gadis itu. 

"Aku bisa mengalahkanmu, Kak! Bangunlah! Katakan bahwa aku lebih hebat!" Ia mencengkeram kain penutup tubuh pria itu seraya menggoyang-goyangkan tubuh yang sudah tak bernyawa. Diam yg didapat membuat gadis itu mrasa pedih, kemenangannya seolah tak berguna lagi dan sia-sia. Apa yang sudah ia lakukan terasa tak berarti. Ia selalu berusaha untuk lebih unggul dari sosok pria itu, selalu berusaha agar lebih baik hanya demi mendapatkan perhatian lebih yang dirasanya kurang ia dapat dari kedua orang tuanya. Meski pun pada akhirnya perhatian itu tak kunjung ia dapatkan karena pria itu selalu menjadi yang paling utama bagi kedua orang tuanya, gadis itu tetap berusaha. Ya, motivasinya adalah pria itu. Tapi sekarang...

Entah ia harus senang atau sedih dalam kehilangan. Senang karena orang yang selalu merebut perhatian kedua orang tuanya telah tiada. Sedih karena dia kehilangan sosok pemacu semangat berjuangnya. Sedangkan, sesal tanpa disadari menyusup masuk dalam diam. Sesal karena tak ada kenangan keceriaan yang mereka bangun bersama. Semua hanya berupa pertengkaran dan rasa iri yang membuahkan kebencian.

Semarang, 28052012


Kamis, 24 Mei 2012

Prosedur Penerbitan Naskah di Gramedia Pustaka Utama # 2

Prosedur

Bila anda memiliki naskah-naskah yang sejalan dengan misi kami, dengan senang hati kami akan mempertimbangkan penerbitannya. Prosedurnya adalah sbb:
  • Kirim naskah Anda (lengkap, dibendel agar mudah dibaca) ke
  •   Redaksi Gramedia Pustaka Utama,
      Gedung Kompas-Gramedia,
      Jl. Palmerah Selatan 24 -- 26, Lt. 6, Jakarta 102
  • Lengkap berarti: naskah itu 100% komplit, termasuk gambar-gambar, walaupun gambar-gambar itu hanya kopi dari aslinya, bukan masternya. Ini penting karena master gambar-gambar itu berikut data elektronik naskah tersebut baru akan diserahkan ketika sudah jelas kami putuskan untuk diterbitkan. Ini menjadi sarana pengaman bagi Penulis agar, andaikata ditolak oleh GPU dan naskah itu mau ditinggal di GPU, hanya kopian yang dimiliki GPU (lihat relevansinya dengan point 4 & 5)
  • Sertakan informasi mengenai:

(a)  Apa keunggulan naskah tsb dibandingkan dengan buku yang sudah ada di pasar?

(b)  Siapa pembaca sasarannya? Siapa saja yang berkepentingan dengan naskah buku tsb, dan seberapa besar populasinya?

(c)  Dalam perkiraan Anda, dengan populasi orang yang bekepentingan seperti itu, kira-kira berapa banyak buku yang bisa diserap pasar selama 12 bulan, bila kita memasarkannya hanya lewat jaringan toko buku?

(d)  Apakah Anda memiliki forum di mana naskah tsb akan digunakan bila sudah terbit? (misal: "Saya adalah dosen dengan mahasiswa 50 orang per semester, dan rekan-rekan saya juga akan memakainya") Bila "ya", berapa banyak Anda sendiri akan menyerap buku tersebut dalam setahun?

(e)  Apakah akan ada event tertentu yang menciptakan momentum yang menguntungkan publikasi naskah tersebut. (Misal, "Bulan xxx tahun zzz akan ada Nasional Seminar On bla bla bla, dan buku ini akan di-launch di sana" atau "Saya akan melakukan in house training untuk 500 karyawan PT yyy, bulan bbb tahun ttt, dan buku ini akan dipakai sebagai panduan.")

  •  Atas pengiriman itu, Anda akan menerima Tanda Terima, di mana dicantumkan formula standar yang antara lain mengatakan bahwa selambat-lambatnya dalam 3 bulan akan ada keputusan mengenai terbit atau tidaknya. Keputusan bisa cepat (7 hari kerja), bisa lambat, antara lain juga tergantung pada informasi-informasi (pertanyaan 1 – 5 tsb, di samping pada tumpukan naskah yang harus kami nilai.
  • Bila naskah tidak akan diterbitkan, GPU akan mengirim balik naskah tersebut, bila disertai prangko secukupnya. Bila tidak disertai prangko secukupnya, atau bila dikehendaki oleh penulisnya untuk diserahkan kepada GPU, kami sedapat mungkin akan menjaga kerahasiaannya, dan tidak akan menyerahkan kepada pihak lain untuk diterbitkan atas nama siapa pun. Tetapi, karena secara berkala kami membersihkan naskah-naskah tua, selalu ada kemungkinan bahwa naskah seperti itu jatuh ke pihak ketiga yang tidak dimaksudkan, baik oleh penulis maupun GPU, dan bisa jadi pihak ketiga itu memanfaatkannya secara tidak bertanggung jawab, tanpa seizin penulis atau GPU. Bila ini terjadi, GPU tidak bertanggung jawab atas kejadian seperti itu.
  •  Bila naskah akan diterbitkan, kirimkan data elektronik berikut master gambar/foto/sket. Waktu terbitnya dirundingkan. Perlu diketahui bahwa pada saat kami memutuskan suatu naskah akan terbit, kami sedang melakukan proses penerbitan naskah-naskah lain yang jadwal terbitnya sudah mengisi standing order mingguan ke jaringan toko buku untuk 2 bulan ke depan. Artinya, naskah yang baru saja diputuskan untuk diterbitkan itu paling cepat bisa terbit 10 minggu kemudian, kecuali ada kondisi khusus yang memungkinkan kami untuk mempercepatnya.

Hak Penulis

Penulis atau pemilik naskah yang naskahnya diterbitkan di GPU memiliki hak-hak sbb:

  1. Royalty sebesar 10% (sepuluh persen) dari harga jual, sebelum PPn sebesar 10%, kecuali bila pajak itu ditanggung pemerintah. Buku-buku yang pajaknya ditanggung pemerintah adalah buku-buku yang dimaksudkan untuk pengajaran. Buku-buku yang termasuk "hiburan" (novel misalnya) dikenai PPn 10%.
  2. Pada saat penandatanganan kontrak kerjasama penerbitan, atau selambat-lambatnya tiga puluh hari setelahnya, diserahkan uang muka 25% (dua puluh lima persen) dari total royalty. Sisanya dibayarkan per semester (pada bulan Februari dan Agustus) sesuai dengan penjualan pada semester yang sudah berjalan.
  3. Pembayaran royalty ini dikenai PPh sebesar 15%.
  4. Diskon otomatis sebesar 20% dari harga jual, untuk pembelian langsung kepada GPU, secaratunai, sebanyak 1 – 99 eksemplar; diskon 25% untuk sebanyak 100 – 199 eksemplar; dan diskon 30% untuk pembelian 300 eksemplar ke atas.
  5. Berhak atas informasi mengenai jumlah cetakan, jumlah penjualan, jumlah stock fisik di gudang,harga jual, rencana cetak ulang, dan bila muncul keraguan atas informasi itu berhak menggunakan Akuntan Publik untuk memverifikasi/memfalsifikasi informasi tersebut.
  6. Hak dan kewajiban secara lebih terperinci diatur dalam kontrak standar.

Penting! Hindarilah:

1.    Plagiat/pelanggaran hak cipta
2.    Fitnah/pelecehan terhadap pihak lain
Tertarik untuk mencoba menerbitkan naskah anda? Kirim saja ke:

PT Gramedia Pustaka Utama

Gedung KOMPAS Gramedia Unit II lt. 6,
Jl. Palmerah Selatan 24-26, Jakarta 10270
Telp. 5480888, 5483008, ext. 3202, 3206, 3200, 3231. Fax: 5300545

Minggu, 20 Mei 2012

Prosedur Penerbitan Naskah di Gramedia Pustaka Utama # 1

GPU & Fokus Terbitannya
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama (GPU) adalah penerbit buku-buku umum, artinya buku-buku yang dimaksudkan untuk konsumsi umum, karena merupakan referensi atau bacaan umum, mulai dari anak-anak, remaja sampai dewasa, mencakup buku fiksi maupun non-fiksi. Itulah main business kami. Tetapi, adalah fakta bahwa banyak di antara buku kami juga dipakai sebagai buku teks. Karena itu, kami juga memiliki Desk Buku Teks, yang secara khusus bertanggung jawab atas buku-buku teks perguruan tinggi yang kami terbitkan. (Untuk buku teks bagi siswa SMU ke bawah, silakan anda menghubungi sister company kami: Penerbit Grasindo).



Buku-buku umum yang kami terbitkan adalah buku-buku yang mengandung nilai-nilai yang sejalan dengan mission statement kami, yaitu "Bersama komponen bangsa yang lain, ikut serta menciptakan Indonesia Baru dengan nilai-nilai humanisme transendental." Karena itu, buku yang kami terbitkan adalah yang mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan yang beriman kepada Sang Pencipta dan Pemelihara, yaitu Tuhan Semesta Alam. Itu berarti bahwa kami akan menerbitkan buku yang mendorong munculnya semangat pluralis, demokratis, inklusif, cerdas, berwawasan luas, profesional, berbudaya, humanis, dan religius. Sebaliknya, kami mengindari penerbitan naskah yang mendorong semangat fanatik sempit, picik, anti-refleksi dan anti-pembelajaran, pelecehan terhadap kemanusiaan.



Dewan Penilaian Naskah
Untuk menilai kelaikan terbit suatu naskah, kami memiliki Dewan Penilaian Naskah, yang terdiri dari wakil-wakil dari Redaksi, Produksi dan Pemasaran/Promosi, yang dari perspektifnya masing-masing akan memberi rekomendasi terhadap suatu naskah untuk terbit atau tidak terbit. Terasah oleh pengalaman, masing-masing akan mengembangkan perspektif mereka, tetapi: 
Secara khusus Redaksi akan menilai naskah dari mutu isinya: kesesuaian dengan misi, kedalaman dan kelengkapan informasinya, bagaimana pentingnya topik/tema naskah (importance), bagaimana relevansinya, bagaimana penyajiannya (urutan logis atau sistematika pemaparan dan gaya bahasanya), apa keunggulan dan kelemahan naskah tsb dibandingkan dengan buku yang sudah beredar di pasar. 
Secara khusus wakil dari Produksi akan menilai naskah dari sisi 

produksi dan pembiayaannya: kemudahan/kesulitan produksinya, proses yang harus dilalui, perkiraan besar ongkos produksinya. 

Secara khusus wakil dari Pemasaran/Promosi akan menilai naskah dari serapan pasarnya (marketability): apakah akan disambut pasar dengan gairah atau sebaliknya? Berapa ribu akan terserap pasar dalam setahun? Berapa lama naskah itu akan bisa hidup di pasar, akan terus dibutuhkan atau hanya menjawab kebutuhan sesaat? Kadang-kadang Dewan juga minta pertimbangan dari para ahli, termasuk dari kalangan perguruan tinggi, atas naskah-naskah tertentu.



Quadran Penilaian
Dengan menggunakan kata MUTU untuk mutu naskah dan kesesuaian dengan misi kami, serta kata LAKU untuk serapan pasar, terciptalah quadran penilaian sbb:

Quadran 1: Mutu Tinggi & Laku KerasInilah primadona kami.
Lampu hijau langsung kami berikan untuk segera menerbitkan naskah yang masuk dalam quadran ini.

Quadran 2: Mutu Rendah Tapi Laku Keras
Ini lampu kuning. Kalau mutunya "tidak jeblok-jeblok amat", dan penerbitannya TIDAK menimbulkan opini umum "Gramedia kampungan!", kami masih mau menerbitkan naskah dalam quadran ini. Tapi, ya itu tadi… tidak terkesan "MELACURKAN DIRI" atau muncul pendapat sinis "HUH, GRAMEDIA CUMA CARI UNTUNG DENGAN MENJUAL SAMPAH!"

Quadran 3: Mutu Tinggi tapi Tak Laku
Ini lampu kuning. Demi standing kami, kami mau menerbitkan naskah-naskah yang masuk dalam quadran ini. Inilah sumbangan sosial kami. Kalau dana kami untuk ini sudah habis, kami mengusahakan cara lain:Minta pihak kedua (penulis) untuk membeli sebagian agak besar dari bukunya pada saat terbit. Menggandeng pihak ketiga untuk ikut dalam pembiayaan, semacam co-publishing, dan logo pihak ketiga itu boleh tampil di cover.

Quadran 4: Mutu Rendah & Tak Laku
Ini lampu merah. Kami tak ingin cari penyakit. Naskah di quadran ini hanya bikin malu penerbit dan penulisnya... sudah malu, rugi lagi!